Minggu, 12 April 2026

Berita Malang Hari Ini

Aktivitas Komunitas Hamparan Rintik, Sulap Baju Bekas Jadi Baju Baru

Komunitas Hamparan Rintik bersama sejumlah komunitas menggelar kegiatan mengkreasi baju bekas dengan teknik pencelupan kain

Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM/Hayu Yudha Prabowo
Pemilik Hamparan Rintik, Fikrah Ryanda Syaputra 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Komunitas Hamparan Rintik bersama sejumlah komunitas menggelar kegiatan mengkreasi baju bekas dengan teknik pencelupan kain pada Sabtu (1/4/2023).

Sebanyak 57 orang ikut dalam kegiatan yang digelar di selasar lantai 3 Malang Creativ Center (MCC) tersebut.

"Kami mewarnai baju bekas. Kan banyak limbah baju bekas atau seragam sudah tidak dipakai lagi. Setelah diwarnai, baju atau seragam bekas itu bisa jadi baju baru lagi," kata Fikrah Ryanda Saputra, instruktur dalam kegiatan itu.

Pria yang akrab disapa Fiko ini mengungkapkan kegiatan ini untuk mengolah limbah baju bekas agar bisa dipakai lagi.

Menurutnya, banyak orang yang menyumbangkan baju bekas saat Ramadan.

"Kadang ada baju yang layak diberikan ke orang sehingga menjadi sampah," kata Fiko.

Kegiatan ini juga sebagai ajang silahturahmi antar komunitas. Misalnya komunitas make-up artist (MUA) atau penata rias bisa silaturahmi dengan model.

"Biasanya kan hanya membahas soal catwalk. Sekarang MUA bisa berkarya bareng," terangnya.

Mayoritas kebanyakan membawa blus, hijab, kain katun baru, atau seragam sekolah bekas. Badge dilepas, sehingga menjadi kemeja baru bermotif.

"Ide memanfaatkan seragam sekolah bisa menjadi inspirasi saat kelulusan nanti. Daripada dicorat-coret, lebih baik diubah menjadi baju baru dengan dicelup warna," katanya.

Instruktur menggunakan metode tie die atau ikat celup atau shibori. Dalam bahasa Jawa disebut jumputan dengan memakai pewarna naptol. Setiap peserta membayar Rp 15.000 untuk mengganti biaya pewarna.

Prosesnya, baju bekas dicelup dulu di dalam larutan naptol. Setelah itu dibilas lagi dengan larutan garam diaos untuk dibangkitkan warnanya.

"Proses ini masih memakai pewarna kimia karena waktunya terbatas," terangnya.

Fiko menargetkan sebanyak 109 orang ikut dalam kegiatan ini. Fiko menggandeng komunitas lain, seperti komunitas rajut. Komunitas ini minta ada kegiatan pewarnaan benang.

"Ada produk rajut mereka yang lama dan kusam yang benangnya bisa diwarnai lagi, setelah bisa dijual lagi," tandasnya.

Sumber: SuryaMalang
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved