Tangis Pilu Marshanda Tak Bisa Jadi Ibu Sempurna, Ingin Merasakan Ambil Rapor dan Siapkan Makanan

Tangis pilu Marshanda tak bisa jadi ibu sempurna, ingin merasakan ambil rapor dan siapkan makanan, ikhlas meski patah hati.

|
Penulis: Sarah Elnyora | Editor: Adrianus Adhi
Instagram @siennakasyafani/Youtube TRANS TV Official
Marshanda (kiri), Sienna Ameerah Kasyafani (kanan). Tangis pilu Marshanda tak bisa jadi ibu sempurna, ingin merasakan ambil rapor dan siapkan makanan 

Mendengar isi hati Marshanda, Ustaz Maulana mencoba membesarkan hatinya.
 
Ustaz Maulana meminta Marshanda untuk tetap berdoa dan mengungkapkan isi hatinya ke Tuhan.

"Ya Allah, kasih saya jalan ya Allah, supaya rasa patah hati dalam hati saya ini terobati" kata Marshanda.

"Berikan jalanMu yang terbaik, walaupun itu lebih baik untuk anakku tapi kurang baik untukku, aku ikhlas ya Allah," ucap Marshanda.

"Ajarkan aku keikhlasan, kekuatan yang sesungguhnya" imbuhnya.

"Dan ajarkan aku arti menjadi seorang ibu yang sesungguhnya walaupun aku nggak ada secara fisik bersama anakku," tutupnya.

Marshanda menyadari dirinya kini tak bisa mengasuh anaknya secara utuh sebab tak mendapatkan hak asuh anak.

Meski demikian, Marshanda selalu berusaha agar bisa menjadi ibu yang baik untuk anaknya yang kini sudah berusia 10 tahun tersebut.

“Semoga Allah beri kebahagiaan buat Sienna,” ucap Marshanda

Tanpa disadari, curhatan Marshanda juga membuat pembawa acara Ruben Onsu dan Mpok Alpa terharu bahkan turut menitikkan air mata.

Marshanda sebelumnya memang mengakui mengidap gangguan bipolar yang membuatnya menjalani perawatan di luar negeri.

Gangguan bipolar adalah kondisi kesehatan mental menyebabkan perubahan suasana hati yang ekstrim mencakup emosi tinggi (mania atau hipomania) dan terendah (depresi).

Dikutip dari Mayo Clinic, gangguan bipolar sebelumnya disebut dengan manik depresi.

Kondisi ini mengacu ketika seseorang menjadi depresi, mungkin merasa sedih atau putus asa dan kehilangan minat atau kesenangan dalam sebagian besar aktivitas.

Ketika suasana hati berubah menjadi mania atau hipomania (tidak terlalu ekstrem dibandingkan mania), orang tersebut mungkin merasa euforia, penuh energi, atau sangat mudah tersinggung.

Perubahan suasana hati ini dapat memengaruhi tidur, energi, aktivitas, penilaian, perilaku, dan kemampuan berpikir jernih.

Halaman
1234
Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved