Minggu, 10 Mei 2026

Kesehatan

WAWANCARA EKSKLUSIF Dr Yoyok Bekti Prasetyo: Identifikasi Dulu Agar Ada Solusinya

Kesehatan mental kaum muda sangat rentan. Banyak generasi Z yang putus asa menghadapi problematika hidup.

Tayang:
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Zainuddin

SURYAMALANG.COM, MALANG - Kesehatan mental kaum muda sangat rentan. Banyak generasi Z yang putus asa menghadapi problematika hidup.

Anak muda tidak bisa sendirian dalam menyelesaikan permasalahannya. Banyak pihak yang harus terlibat dan mendampingi anak muda agar tidak putus asa.

Berikut ini wawancara eksklusif wartawan SURYAMALANG.COM, Septyana Eka dengan Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr Yoyok Bekti Prasetyo MKep Sp Kom.

Wawancara eksklusif ini juga dapat disaksikan di kanal YouTube Surya Malang.

Bagaimana generasi Z harus beradaptasi di tempat baru?

Yang paling penting adalah support system dari lingkungan dan berkomunikasi. Jika tidak mampu melaksanakan, maka tidak bisa menyelesaikan permasalahannya.

Fungsi sosial penting dalam pergaulan, baik dengan teman, orang tua, dosen, dan sebagainya. Dalam konteks akademik, misalnya mengerjakan skripsi, kan ada dosen pembimbing. Harus ada kata-kata penguat bahwa skripsi adalah bukan hanya masalah mahasiswa, tapi juga dosen. Sehingga skripsi bisa diselesaikan bersama.

Bagaimana biar kesehatan mental generasi Z kuat?

Upayanya adalah mampu mengatur manajemen stres. Problem saya apa? Diidentifikasi dulu agar ada solusinya.

Jika tidak mampu, cari sumber dengan cara berinteraksi dengan orang tua, atau melakukan kontemplasi diri atau merenungkan.

Paling penting adalah kekuatan spiritual. Ini justru yang perlu diperkuat pada generasi Z. Saya yakin akan berdampak pada kekuatan mental mereka.

Mengapa kesehatan mental generasi sebelum ini lebih kuat?

Karena pengaruh life style, adab komunikasi. Sekarang kan sangat individualistis. Masyarakat asyik dengan gadget. Di rumah, masing-masing anggota keluarga asyik dengan gadget.

Dulu itu interaksi langsung, olahraga, main bola, petak umpet, dan benar-benar bahagia. Sekarang kebahagiaan semakin sulit karena gadget.

Beberapa waktu lalu ada kejadian bunuh diri di Jembatan Sukarno Hatta (Suhat) Ada juga percobaan bunuh diri juga. Apa ini terlihat ada gangguan kesehatan mental?

Sebelum bunuh diri, pasti ada fase sebelumnya. Ada ide, merencanakan, sampai kejadian. Arahnya sudah sistematis.

Faktornya bisa karena tidak mampu menghadapi stres, under estimate pada diri sendiri, dan bawaannya jadi cemas. Biasanya juga tidak mau interaksi. Makan saja sudah tidak selera. Merasa tidak punya masa depan. Akhirnya bunuh diri.

Apa yang perlu dilakukan sebagai support system?

Perlu ada program di sekolah dan kampus. Sebenarnya ada ukuran untuk mendeteksi ancaman bunuh diri dari remaja.

Dalam Suicide Skill Index (SSI) ada pertanyaan 'berapa orang yang ingin bunuh diri?'. Ada tools yang bisa diberikan pada siswa SMA atau SMK untuk mendeteksi itu.

Dari hasilnya, maka bisa dilakukan edukasi kesehatan mental. Kuncinya, pada release stres dan mengatur manajemen stres. Dan yang paling penting adalah dukungan keluarga.

Sumber: SuryaMalang
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved