Berita Malang Hari Ini
Warung Arema Masak Pakai Arang, Tak Bingung LPG Langka
Masyarakat Kota Malang tengah diterpa isu kelangkaan LPG 3 Kg. Sejumlah warga kesulitan menemukan LPG 3 Kg untuk bahan bakar memasak makanan di rumah.
Penulis: Benni Indo | Editor: rahadian bagus priambodo
SURYAMALANG.COM, MALANG - Masyarakat Kota Malang tengah diterpa isu kelangkaan LPG 3 Kg. Sejumlah warga kesulitan menemukan LPG 3 Kg untuk bahan bakar memasak makanan di rumah. Di tengah sulitnya masyarakat mendapatkan LGP 3 Kg, ada sebuah warung makan unik yang menggunakan arang sebagai bahan bakar memasak menu makanannya.
Namanya Warung Arema yang terletak di Jalan Zainul Arifin, Kota Malang. Pemiliknya, Titik Ariyati berusia 69 tahun menceritakan bahwa kebiasaan memasak menggunakan arang itu sudah ia lakukan sejak lama. Saking lamanya, ia tidak ingat lagi kapan memulai menggunakan arang untuk memasak menu makanan di warungnya.
"Sudah puluhan tahun yang lalu memulai masak menggunakan arang," ujarnya.
Titik mengawali berjualan makanan sejak tahun 1970-an dengan menu pertama rujak cingur. Saat itu, pelanggan yang membeli sebagian besar para mahasiswa indekos. Rupanya, para mahasiswalah yang meminta Titik bisa berjualan nasi campur. Sejak saat itu ia mulai membuat menu nasi campur.
"Jadi tidak langsung nasi campur. Anak-anak indekos yang kuliah di Brawijaya itu minta makanan lain. Ya nasi campur ini, sampai sekarang jualannya ya ini," katanya.
Pelanggan setia Warung Arema beragam. Mulai dari kalangan bawah sampai atas. Mulai artis sampai atlet. Sejumlah pemain sepakbola yang pernah membela Arema juga sering mampir ke warungnya. Sebut saja Juan Revi, Alexandra Gottardo, bahkan pelatih Aji Santoso.
Saat banyak warga bingung mendapatkan LPG 3 Kg, Titik justru sebaliknya. Ia tidak bingung mendapatkan bahan bakar memasak. Arang mudah didapatkan, meskipun ia harus mengeluarkan uang rerata Rp 100 ribu per hari untuk membeli areng. Meski lebih mahal dibandingkan menggunakan elpiji 3 kilogram, dia tetap mempertahankan menggunakan areng.
Bukan tanpa sebab Titik memilih menggunakan arang. Selain sudah menjadi ciri khas warungnya, ternyata ia mengaku memiliki ketakutan menggunakan kompor gas LPG. Peristiwa banyaknya tabung gas meledak beberapa tahun silam membuatnya takut menggunakan LPG.
Itulah mengapa ia lebih memilih arang. Selain itu, menurutnya untuk makanan yang dimasak menggunakan areng mempunyai cita rasa tersendiri. Panas yang dimunculkan dari api arang membuat makanan yang dimasak lebih sedap. Ia meyakini hal itu, dan merasa bumbu yang dibuat bisa meresap ke makanan.
"Kalau pakai arang, makanan lebih enak dan bumbu meresap ke seluruh masakan. Masak ayam atau daging juga lebih empuk," kata Titik.
Menu ayam goreng masakan Titik memiliki tekstur empuk dikunyah. Jika dimakan, tidak meninggalkan daging di gigi. Begitu juga sayur singkong bersama urap kelapa dan bumbu merah yang dimakan, rasa asin dan pedas bercampur menjadi satu.
Dalam menjalankan usahanya, Titik dibantu anak keduanya, Ifa. Titik membuka warung yang memiliki menu andalan nasi campur. Menu nasi campur yang umum ditemukan di warung-warung lainnya. Menu makanan yang dijual, ada nasi urap-urap dan mi dengan lauk pauk bisa menggunakan sate komoh, ayam goreng, tempe, mendol atau bakwan jagung.
Kemudian juga ada nasi semur daging dan nasi sop. Harga makanan yang dijual rata-rata dari Rp 10.000 hingga Rp 18.000 setiap porsinya. Awalnya usaha yang Titik buka berawal dari rumah mereka yang tidak jauh dari lokasi sekarang. Kemudian, mereka pindah ke ruko sejak 2017 lalu. (Benni Indo)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/titik-tengah-memasak-menggunakan-arang.jpg)