Senin, 13 April 2026

Berita Malang Hari Ini

Lebih Dekat dengan Millania Dionita Sari, Penari Beskalan Khas Malang

Meski baru berusia 23 tahun, tetapi gadis yang akrab disapa Milla ini sudah tampil di berbagai daerah dengan tarian asli Malang yaitu Tari Beskalan.

Penulis: Kukuh Kurniawan | Editor: Yuli A
ist
Millania Dionita Sari berusia 23 tahun, penari Beskalan. 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Cintai budaya tradisional dan tetap berkarya, itulah yang dilakukan Millania Dionita Sari.

Meski baru berusia 23 tahun, tetapi gadis yang akrab disapa Milla ini sudah tampil di berbagai daerah dengan tarian asli Malang yaitu Tari Beskalan.

Langkah Milla sebagai penari, diawali di bangku Taman Kanak-kanak (TK). Selain suka melihat kakanya menari, ia juga menyenangi berbagai macam hal berbau seni.

Minatnya sebagai penari pun tumbuh, kemudian ia mengikuti ekstrakurikuler tari.

"Kemudian saya mulai banyak berlatih gerakan tari. Karena saya asli Malang, saya sangat suka melakukan Tari Beskalan, yang merupakan tarian asli Malang," ungkap gadis lulusan SDN Tanjungrejo 3 Kota Malang itu.

Gerakannya pun semakin lihai dan dirinya mulai berani untuk tampil di depan publik.

Sejak tahun 2012, ia sudah sering tampil di berbagai kegiatan di Malang. Baik acara budaya, karnaval hingga sajian dari sanggar tari di beberapa tempat di wilayah Malang Raya.

"Di tahun 2016, saya tampil di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dalam kegiatan mewakili Malang. Setelah itu, saya sering tampil mulai dari kegiatan kampus, hingga penyambutan tamu VIP di jajaran pemerintahan daerah," jelasnya.

Jiwa seni sebagai penari yang kuat dalam diri Milla, membuatnya aktif mengajak generasi muda untuk menjaga kelestarian tari tradisional.

"Saya pun aktif mengajak masyarakat untuk mengikuti sanggar tari, dan mengunggah kegiatan-kegiatan tari yang ada di wilayah Malang. Ini menjadi opsi agar banyak orang yang sadar dan mengerti bahwa memang seni tari patut untuk dilestarikan dan dihargai," jelasnya.

Oleh sebab itu, Milla juga kerap menjadi pengajar ke sanggar-sanggar yang memiliki murid dan itu dilakukannya secara gratis.

Selain dunia tari, ia juga memiliki hobi kerajinan tangan. Dan melalui hobi kerajinan tangannya itu, ia mampu mendulang pundi-pundi keuntungan secara ekonomi.

Kerajinan tangannya itu, ia namakan Diocraft yang diambil dari nama tengahnya. Untuk mengenalkan bahwa itu adalah murni hasil karyanya.

"Awalnya di tahun 2020, saat pandemi Covid-19, membuat saya berhenti bekerja di salah satu bioskop. Kemudian, saya membuat beberapa kerajinan tangan,"

"Pada awalnya untuk diberikan ke orang-orang terdekat. Kemudian, banyak permintaan masuk," terang gadis yang merupakan sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Merdeka (Unmer) Malang ini.

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved