Kamis, 23 April 2026

Berita Probolinggo Hari Ini

Melihat Ritual Tari Sodoran Warga Tengger Probolinggo Saat Hari Raya Karo

Warga Tengger di Desa Ngadisari Kecamatan Sukapura dan Desa Jetak Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, melaksanakan ritual Tari Sodoran.

Penulis: Danendra Kusuma | Editor: Yuli A
danendra kusuma
Warga Tengger di Desa Ngadisari Kecamatan Sukapura dan Desa Jetak Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, melaksanakan ritual Tari Sodoran, Kamis (3/8/2023). 

SURYAMALANG.COM, PROBOLINGGO - Warga Tengger di Desa Ngadisari Kecamatan Sukapura dan Desa Jetak Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, melaksanakan ritual Tari Sodoran, Kamis (3/8/2023).

Ritual itu dilangsungkan di Balai Desa Ngadisari.

Ritual Tari Sodoran dilakukan oleh empat orang, yang seluruhnya laki-laki.

Gerakan Tari Sodoran terbilang sederhana namun memiliki makna mendalam, yakni penciptaan alam semesta, manusia, tanaman, dan hewan.

 

Gerakannya, para penari mengangkat jari telunjuk kanan ke atas lalu digoyangkan.

 

Sedangkan, tangan kiri berada di pinggang.

 

Para warga secara bergantian melakukan Tari Sodoran dengan mengenakan pakaian adat lengkap diiringi gamelan.

 

Tari Sodoran ini digelar dalam rangkaian Perayaan Hari Raya Karo 1945 Saka.

 

Sebelum menggelar Tari Sodoran, terdapat prosesi pertemuan dua mempelai, yakni mempelai laki-laki, yang diwakili dari Desa Ngadisari dan mempelai perempuan dari Desa Wonotoro. Sebagai saksi adalah Desa Jetak.

 

Prosesi pertemuan itu hanya sebagai simbol saja.

 

Para rombongan membawa beragam pusaka Jimat Klontongan serta sesaji.

 

Jimat Klontongan berupa gayung, tanduk kerbau, dan tombak itu pun disucikan.

 

Di tengah pelaksanaan ritual Tari Sodoran, rombongan perempuan warga Tengger berduyun-duyun menuju Balai Desa Ngadisari menenteng rantang berisi makanan.

 

Nantinya, makananan dalam rantang itu disantap secara bersama-sama.

 

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Probolinggo, Bambang Suprapto mengatakan inti dari Hari Raya Karo adalah Pawedalan Jagad atau selamatan alam semesta beserta isinya.

 

Selain itu juga peringatan terwujudnya alam semesta, manusia, dan seluruh makhluk hidup.

 

"Tari Sodoran adalah tanda penciptaan manusia. Lahirnya manusia diawali dari pernikahan laki-laki dan perempuan. Yang menjadi mempelai perempuan yakni Desa Wonotoro dan yang menjadi mempelai laki-laki yakni Desa Ngadisari," katanya.

 

Dia menjelaskan, Jimat Klontongan dirawat bergantian oleh tiga desa, yaitu Desa Ngadisari, Wonotoro, dan Jetak.

 

Jimat Klontongan tersebut adalah peninggalan leluhur warga Tengger.

 

"Hari ini Jimat Klontongan diserahkan Desa Ngadisari untuk dirawat Desa Wonotoro," jelasnya.

 

Upacara Hari Raya Karo dihadiri oleh pemuda-pemudi Tengger, termasuk anak-anak.

 

Itu artinya mereka sangat antusias merawat dan melestarikan budaya Tengger.

 

Salah satunya, Nike Siaimulya Adriani (16) warga Desa Ngadisari.

 

Nike datang ke Balai Desa Ngadisari untuk mengantarkan rantang berisi makanan ke ayah dan kakaknya.

 

Dia menyiapkan makanan klepon, ketan, nasi lengkap dengan lauknya, serta buah.

 

"Ritual dilakukan oleh laki-laki. Kami yang perempuan mengantarkan rantang makanan kepada ayah atau kakak laki-laki. Semoga kami anak muda bisa terus melestarikan budaya Tengger," ucapnya. (nen) 

Keterangan foto : Warga Tengger melaksanakan ritual Tari Sodoran, Kamis (3/8/2023).

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved