Berita Malang Hari Ini
Prof Mangku Purnomo Kritik Dampak Buruk Kebijakan Pertanian Berbasis Feeling dan Politik
Karena perumusan kebijakan kurang akurat, maka di pedesaan tetap menyumbang angka kemiskinan, stunting dan illiterasi tinggi.
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Yuli A
SURYAMALANG.COM, MALANG - Universitas Brawijaya (UB) menambah guru besar (gubes) baru dua orang. Mereka adalah Prof Mangku Purnomo SP MSi PhD dari Fakultas Pertanian dan Prof Drs Andy Fefta Wijaya MDA PhD dari Fakultas Ilmu Administrasi (FIA).
Mereka akan dikukuhkan pada Minggu (13/8/2023) bertempat di gedung Samantha Krida. Mangku adalah gubes bidang Ilmu Sosiologi Pertanian. Sedangkan Andy adalah gubes bidang ilmu kebijakan publik.
Mangku menyoroti kebijakan pembangunan pertanian di Indonesia. "Saya sudah riset selama 15 tahun terutama pembangunan pertanian di Indonesia dan negara berkembang lainnya," papar Mangku pada wartawan, Jumat (11/8/2023).
Dikatakan, pada awal Orde Baru, pembangunan pertanian berdasarkan pertimbangan tekno saintifik. Setelah reformasi, orientasinya berubah.
"Sekarang lebih pada pendekatan ke feeling. Lebih ke elektoral. Misalkan gerakan peningkatan palawija padi dan jagung menggunakan istilah yang memasyarakat. Tapi pendekatan tekno saintifik kurang. Di Jakarta ingin begini dan bagaimana merealisasikan itu. Ilmuwan dikumpulkan untuk menjustifikasi policy yang sudah dibuat," kata dia. Dampaknya adalah hampir di semua komoditas pertanian tidak berdaya saing.
Karena perumusan kebijakan kurang akurat, maka di pedesaan tetap menyumbang angka kemiskinan, stunting dan illiterasi tinggi.
Maka ia memberikan solusi dengan pendekatan Tekno Saintifik Progresif (TsP) sehingga konsepnya menyesuaikan dinamika sosial ekonomi masyarakat karena relevan digunakan.
Dikatakan, program pertanian itu harus berbasis akademik, keilmuan dan data yang memadai agar tepat sasaran.
Termasuk juga memanfaatkan teknologi agar akurat. "Misalkan memakai satelit untuk melihat mana yang panen. Jangan sampai dipakai pendekatan politik," tandasnya.
Dikatakan, segala kebijakan pertanian tidak didekati dengan rapat, kesepakatan. Tapi dengan keilmuan. Contohnya saja subsidi pupuk, sistemnya jadi berlini-lini.
Sedang Prof Andy Fefta yang juga dikenal sebagai Dekan FIA UB menyebutkan jika dalam pidato pengukuhannya lebih banyak bicara konseptual daripada empirik.
"Memang boleh memilih salah satu," jawab dia. Ia memberikan paparan tentang "Kebijakan Publik dalam Model Collaborative Governance Plus Multi Helix (CGPMH)".
Kebaruan pada model ini mengkombinasikan antara konsep collaborative governance dan helix yang selama ini kajiannya dilakukan sendiri-sendiri.
"Kekuatan utamanya masing-masing pemangku kepentingan membawa pengalaman, pengetahuan dan perspektif unik dalam kebijakan publik tapi ada kelemahannya yaitu menghabiskan waktu dan sumber daya yang lama.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/Prof-Mangku-Purnomo-SP-MSi-PhD-kiri-dari-Fakultas-Pertanian-dan-Prof-Drs-Andy-Fefta-Wijaya.jpg)