Kamis, 11 Juni 2026

Berita Malang Hari Ini

Kisah Hizbullah di Era Perang Kemerdekaan, Laskar Bersenjata Pecut dan Rotan

Berbekal peralatan seadanya, anggota Hizbullah ikut berperang melawan tentara yang bersenjata lebih modern.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM/Sylvianita Widyawati
Arief Wibisono (3 dari kiri) merilis buku 'Perjalanan Perjuangan Laskar Hizbullah Kota Malang' di Gedung Kesenian Gajayana, Kota Malang, Senin (9/10). 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Laskar Hizbullah turut berperan dalam perang kemerdekaan Indonesia.

Berbekal peralatan seadanya, anggota Hizbullah ikut berperang melawan tentara yang bersenjata lebih modern.

A Hambali tidak akan bisa melupakan momen dalam perang kemerdekaan tersebut. Saat itu Hambali masih berusia lima tahun.

"Saya teringat saat mengantar ayah saya, almarhum Umar Maksum ke Alun-alun Kota Malang," kata Hambali kepada SURYAMALANG.COM, Senin (9/10).

Saat itu Umar Maksum mengumpulkan laskar Hizbullah di Alun-alun Kota Malang, kemudian berangkat ke Sidoarjo. Sebelum berangkat, seluruh laskar Hizbullah harus membawa senjata.

"Bagi laskar yang tidak punya senjata, bisa membawa pecut dan rotan," terangnya.

Para laskar Hizbullah ini akan ditugaskan untuk mengadang tentara Belanda di dekat Sidoarjo.

"Laskar Hizbullah berhasil membendung Belanda, tapi ada dua korban di Hizbullah," imbuhnya.

Arief Wibisono merangkum perjuangan para laskar tersebut dalam buku berjudul 'Perjalanan Perjuangan Laskar Hizbullah Kota Malang.

Anggota keluarga laskar Hizbullah hadir dalam peluncuran buku yang digelar di Gedung Kesenian Gajayana Malang.

Arief Wibisono sengaja meluncurkan buku di Gedung Kesenian Gajayana, Kota Malang. Menurutnya, sekitar 60 persen cikal bakal laskar Hizbullah ada di Kasin, Kota Malang. Sisanya ada di Kabupaten Malang. Makanya Arief menggunakan Gedung Kesenian Gajayana yang lokasinya tidak jauh dari Kasin.

"Saya memilih Kota Malang karena juga ada tempat pertempuran melawan Belanda, yaitu di depan pertigaan pos polisi Kasin," kata Arief.

Arief mengungkapkan saat masa perang kemerdekaan, ada Hizbullah dan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) di Kota Malang. Jumlah laskar Hizbullah di Kota Malang antara 50 sampai 100 orang.

Arief butuh waktu sekitar satu tahun untuk mengerjakan buku ini. Sebelumnya sudah ada buku tentang laskar Hizbullah di Jombang. Nantinya akan ada sejumlah buku tentang laskar Hizbullah di berbagai daerah, seperti Kota Malang, Jember, Situbondo dan Sumatera Barat.

"Untuk dokumentasi dan narasumber buku ini, saya bertemu langsung dengan keluarga. Kebetulan ada beberapa keluarga yang menyimpan data," kata Arief.

Sumber: SuryaMalang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved