Berita Bangkalan Hari Ini
Abba Junaidi Ajarkan Jakaba dan Pupuk Organik Cair Pada Kaum Tani di Bangkalan
Pupuk kimia sintetis bersubsidi semakin susah didapat oleh kaum tani di mana saja, termasuk di Desa Martajasah Kelurahan Mlajah, Bangkalan.
Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Yuli A
SURYAMALANG.COM, BANGKALAN – Pupuk kimia sintetis bersubsidi semakin susah didapat oleh kaum tani di mana saja, termasuk di Desa Martajasah Kelurahan Mlajah, Bangkalan.
Mereka kemudian diperkenalkan dengan pupuk organik untuk mencukup kebutuhan aneka tanaman.
Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPP NU) Bangkalan menggelar ‘Ngaji Pertanian’ sekaligus memberikan pelatihan cara membuat pupuk organik Jamur Keberuntungan Abadi (Jakaba) di GOR Sultan Mertoyoso, desa setempat, Jumat (17/11/2023).
Kepala Desa Martajasah, Rahmat mengungkapkan, masyarakat petani di desanya banyak yang mempunya lahan pertanian di Desa Bilaporah Kecamatan Socah. Total luas lahan dan luas tanam di Desa Martajasah seluas sekitar 8 hektar.
“Sementara jatah pupuk yang ditentukan pemerintah berdasarkan lahan pertanian yang ada di desa. Sehingga masyarakat petani kami sangat kekurangan jatah pupuk. Karena itu kami tengah mencoba lahan demplot, dua petak sawah menggunakan Jakaba,” singkat H Rahmat kepada Tribun Madura.
Dalam kesempatan tersebut, hadir Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bangkalan, Ir Puguh Santoso, Ketua PCNU Bangkalan, KH Makki Nasir, serta penemu pupuk organic Jakaba asal Situbondo, Junaidi, sejumlah penyuluh pertanian lapangan, serta perwakilan dari kelompok tani.
Ketua LPP NU Bangkalan, KH Hasan Iroqi (Ra Hasan) menjelaskan, pihaknya mengkaji bahwa permasalahan pertanian salami ini hambatan utamanya ternyata uang tidak bisa menjamin para petani bisa mendapatkan pupuk terkait dengan data.
“Karena itu, kami berkomitmen akan membantu Dinas Pertanian Bangkalan dengan segala kemampuan kami untuk menyelesaikan permasalahan. Bukan mencari siapa yang bersalah di sistem (distribusi pupuk subsidi) yang seperti ini,” ungkap Ra Hasan.
LPP NU Bangkalan memahami bahwa permasalahan pertanian di Kabupaten Bangkalan, pertama adalah SDM petani itu sendiri yakni sebanyak 70 persen usia petani sudah tidak produktif.
“SDM petani kita itu terdiri dari SDM afkir, setelah mereka bekerja dari luar (perantauan) dan kembali ke kampung halaman sebagai petani dengan usia yang sudah tidak muda lagi,” jelas Ra Hasan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/Nahdlatul-Ulama-Bangkalan-masyarakat-petani-Desa-Martajasa-Kelurahan-Mlajah.jpg)