Rabu, 29 April 2026

Berita Pasuruan Hari Ini

Dapat Sekolah Gratis dari Sekolah Kristen, Wiwin Pernah Dicibir Jual Agama Demi Sekolah

Guru di SMA Kristen Bhaitani Tutur bernama Wiwin Dwi Jayanti ini baru saja mendapat medali emas dalam ajang Sains Merdeka Indonesia 2023.

Penulis: Galih Lintartika | Editor: rahadian bagus priambodo
suryamalang.com/Galih Lintarkita
Guru di SMA Kristen Bhaitani Tutur bernama Wiwin Dwi Jayanti ini baru saja mendapat medali emas dalam ajang Sains Merdeka Indonesia 2023. Namun, di balik prestasinya, Wiwin memiliki pengalaman yang cukup memilukan. 

SURYAMALANG.COM, PASURUAN - Guru di SMA Kristen Bhaitani Tutur bernama Wiwin Dwi Jayanti ini baru saja mendapat medali emas dalam ajang Sains Merdeka Indonesia 2023. Namun, di balik prestasinya, Wiwin memiliki pengalaman yang cukup memilukan.


Sebelum mencapai prestasinya, Wiwin, sapaan akrab perempuan berjilbab ini ternyata pernah mengalami masa - masa sulit. Itu diawali saat orang tuanya tidak mampu membiayai sekolahnya setelah tamat Sekolah Dasar (SD).


Padahal, hasrat Wiwin untuk mengenyam sekolah setinggi - tingginya saat itu sudah memuncak. Ia ingin melanjutkan sekolah ke jenjang SMP. Sayangnya, orang tuanya tidak sanggup membayar sekolahnya.


“Dulu, waktu di SD, saya selalu dapat ranking 1. Itu mulai kelas 1 sampai kelas 6. Saat itu, saya hanya bisa pasrah dan kecewa karena tidak dikasih kesempatan sekolah lebih tinggi karena tidak ada biaya,” kata Wiwin.


Semuanya berubah saat ia mendapat kesempatan mengenyam pendidikan di SMP Kristen Bhaitani, Tutur. Dia mendapat kesempatan sekolah dan tidak perlu memikirkan biayanya karena ditanggung penuh yayasan.


“Ya jujur langsung senang, karena saya bisa sekolah di bangku SMP seperti teman - teman saya. Orang tua juga sudah mengizinkan kalau saya sekolah di sini, karena tidak perlu memikirkan biaya, sudah gratis,” ungkapnya.


Namun, cibiran itu mulai datang, seperti dari tetangga dan orang - orang yang di sekitarnya. Bahkan, yang membuatnya paling marah saat itu, ada cibiran yang cukup menyakitkan dan sulit untuk dilupakan.


“Kebetulan lingkungan saya itu kan muslim sekali. Saya sempat dicibir semacam rela menjual agama hanya untuk bisa sekolah. Itu dalam banget sih, karena saya sekolah yang ada dalam naungan yayasan kristen,” jelasnya.


Apalagi, saat itu, seragam di sekolahnya masih pendek. Itu seolah - olah membuat mereka semakin yakin bahwa cibiran itu benar. Bahkan, ada cibiran bahwa saya tidak akan lulus sekolah dan putus di tengah jalan.

 

Namun, ia tetap percaya diri dan tidak memasukkan cibiran itu dalam - dalam. Dia tetap fokus sekolah sekalipun banyak cibiran miring yang menerpanya. Ia tetap berusaha menjadi siswa yang baik dan berprestasi.


Di sisi lain, Wiwin ternyata memiliki tekat yang kuat untuk sekolah. Dia rela berjalan kaki kurang lebih 5 Km dari sekolah ke tempat penurunan angkutan dan masuk ke dalam rumahnya dari jalan raya.


Jarak sekolah dan rumahnya memang cukup jauh. Dia perlu jalan kaki untuk keluar ke jalan raya besar yang dilewati angkutan umum. Setelah itu, dia harus naik angkutan umum dan turun di Tutur.


Setelah dari tempat pemberhentian angkutan , ia harus berjalan kaki menuju sekolahnya. Dan itu Itu dilakukannya setiap hari sampai lulus SMP dan lanjut ke SMA. Dia tidak pernah diantar karena memang tidak ada kendaraannya.


Hambatan untuk melanjutkan sekolah lebih tinggi juga kembali datang. Saat duduk di bangku kelas 3 SMA, ia dijidohkan oleh orang tuanya dengan seorang pria yang sudah berumur dan mapan.

Sumber: SuryaMalang
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved