Berita Persebaya Hari Ini
Persebaya Kehilangan Jati Diri, Permainan Kurang Ngeyel, Ngosek, dan Wani
Filosofi permainan Persebaya yang mengandalkan bola-bola pendek dan pergerakan eksplosif kurang menonjol selama merumput di Liga 1.
SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Persebaya Surabaya telah kehilangan jati diri di Liga 1 2023/2024.
Filosofi permainan Persebaya yang mengandalkan bola-bola pendek dan pergerakan eksplosif kurang menonjol selama merumput di kompetisi kasta tertinggi musim ini.
Ciri khas permainan yang ngeyel, ngosek, dan wani pun hampir tidak terlihat selama pertandingan.
Hilangnya jati diri ini membuat Bajul Ijo terperosok ke posisi 13 klasemen sementara dengan 26 poin dari 23 pertandingan. Persebaya hanya terpaut lima poin dengan Arema FC yang berada di posisi 16 atau zona degradasi.
Bonek menilai tim Persebaya saat ini bukanlah tim yang dikenal oleh penduduk setianya.
"Keinginan kami sederhana, kembalikan marwah Persebaya, kembalikan harga diri Persebaya," ujar perwakilan Bonek saat aksi setelah laga tunda pekan 18 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya pada 13 Desember lalu.
Selama ini Persebaya seakan menjadi simbol bagi Surabaya. "Kota ini didirikan oleh para pejuang, bukan para pecundang. Kami berharap pemain dan pelatih bersikap seperti seorang pejuang, bukan pecundang," terang Bonek.
Persebaya menggaungkan target juara Liga 1 2023/2024. Namun seiring berjalannya kompetisi, permainan Persebaya tidak sesuai ekspektasi. Bahkan Persebaya harus gonta-ganti pelatih sampai empat kali.
Mengawali musim ini, Persebaya mencatat satu menang, dua imbang, dan tiga kalah. Imbasnya, manajemen harus mengevaluasi posisi pelatih Persebaya saat itu, Aji Santoso.
Setelah mendepak Aji Santoso, manajemen mempercayakan tim ke Uston Nawawi. Di bawah pimpinan gelandang legendaris ini, Bajul Ijo sempat tampil meyakinkan dengan empat menang dan sekali seri.
Tapi, Uston tidak bisa melanjutkan kepemimpinan karena terganjal lisensi pelatih. Pelatih sementara hanya diberi waktu 30 hari, dan klub wajib merekrut pelatih kepala baru.
Pengisi kursi pelatih berganti pada pekan 12 dengan merekrut pelatih peraih tiga gelar Liga Hongkong, Josep Gombau. CV mentereng dan jam terbang bersama Barcelona tidak cukup untuk Josep Gombau mengangkat prestasi Persebaya.
Justru di tangan pelatih Spanyol tersebut, Persebaya tampil dengan filosofi baru yang berbeda dari Aji Santoso dan Uston Nawawi. Persebaya mencatat satu kemenangan, satu imbang, dan empat kekalahan dalam enam pertandingan.
Akhirnya Josep Gombau dibebastugaskan di pekan 17. Yahya Alkatiri sebagai manajer tim pun kena evaluasi, dan berujung pada pemecatan. Yahya dianggap paling bertanggung jawab atas pemilihan pemain yang tidak sesuai dengan filosofi permainan Persebaya sehingga bermuara pada inkonsistensi tim.
"Tidak ada tawar menawar. Apapun materi pemain, kami dipaksa untuk menerima kondisi kedalaman tim saat ini. Jika mereka memaksa kami untuk menerima kedalaman tim ini, maka kami juga harus memaksa mereka harus menang," tegas Bonek.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/Bonek-aksi-setelah-laga-Persebaya-vs-Persis-Solo-di-Stadion-Gelora-Bung-Tomo-Surabaya.jpg)