Hilangnya Pamor Apel Kota Batu
Petani Apel di Kota Batu Bertahan dengan Mengandalkan Wisata Petik Apel,
Banyaknya biaya operasional kebun apel ini menurut Utomo dapat tertutupi dari hasil wisata petik apel.
Penulis: Dya Ayu | Editor: Dyan Rekohadi
SURYAMALANG.COM, BATU - Usaha wisata petik apel menjadi alat bantu bagi petani apel di kota Batu untuk bertahan.
Pendapatan dari tamu wisata petik apel setidaknya bisa menutup biaya pengelolaan kebun apel bagi para petani yang bertahan untuk tidak berpaling menananm tanaman lain.
Baca juga: Harga Apel Tak Lagi Bagus, Kaum Tani di Kota Batu Beralih Tanam Jeruk dan Sayur-mayur
Meski sudah tak banyak petani apel yang mempertahankan tanaman apelnya dan memilih untuk mengganti pohon apel dengan sayur mayur, namun sampai sekarang wisata petik apel tetap bertahan.
Menurut petani apel Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu bernama Utomo, adanya wisata petik apel justru menjadi ‘power’ bagi petani yang banyak merugi karena harga apel yang murah berbanding terbalik dengan biaya operasional yang tak sedikit.
Banyaknya biaya operasional ini menurut Utomo dapat tertutupi dari hasil wisata petik apel.
Untuk sekali masuk satu orangnya dibandrol dengan harga Rp 25 ribu.
Di sana pengunjung dapat makan sepuasnya empat jenis apel yang ditanam, yakni manalagi, granny smith, rome beauty dan anna.
Utomo mengaku tetap bertahan menjadi petani apel karena apel merupakan ikon Kota Batu.
Ia tak ingin apel musnah sekalipun ia pernah merugi ratusan juta rupiah.
Utomo pernah rugi besar di tahun lalu karena produksi apel yang anjlok dan harganya hanya perkilo hanya Rp 4 ribu dari petani.
Baca juga: Petani Apel di Kota Batu Mulai Tinggalkan Apel Beralih Ke Jeruk Dan Sayur
Utomo menuturkan Pemerintah daerah memang memberikan perhatian, namun dinilai kurang karena bantuan yang diberikan tak sepenuhnya dapat membantu.
“Ya kan bantuan yang diberikan hanya sekian persen tapi dibagi di beberapa desa dan ratusan petani apel. Itu tidak menyukupi dan hanya mensupport saja,” ujarnya.
Kini, dari wisata petik apel ia mampu memperoleh omzet jutaan hingga belasan juta rupiah perbulannya.
Sebab apel-apel tersebut jika dijual di wisata petik apel perkilonya dijual Rp 40 ribu, sedangkan jika dijual dari petani ke pengecer seharga Rp 15 ribu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/petani-petik-apel-Batu.jpg)