Jumat, 1 Mei 2026

LIPSUS Malang Raya Vs TBC

Perokok Lebih Mudah Kena TBC

Diperkirakan ada 969.000 kasus Tuberkulosis (TBC) di Indonesia, dengan angka kematian mencapai 140.000 kasus.

Tayang:
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM/Sylvianita Widyawati
Dokter spesialis paru, Ungky Agus Setyawan sosialisasi bahaya merokok di SMP PGRI 4 Kota Malang, Jumat (13/9). 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Sesuai data Global TB Report 2022, diperkirakan ada 969.000 kasus Tuberkulosis (TBC) di Indonesia, dengan angka kematian mencapai 140.000 kasus. Kasus TBC di indonesia berada nomor dua tertinggi di dunia setelah India.

TBC termasuk penyakit menular akibat bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyerang organ paru-paru. Kuman ini tahan asam dan pengobatannya agak sulit dan butuh waktu panjang. "Kalau di Indonesia, pengobatan bagi pasien sensitif obat (SO) minimal enam bulan. Sekarang ada opsional yang empat bulan tapi dengan obat baru," kata Ungky Agus Setyawan, dokter spesialis paru kepada SURYAMALANG.COM, Jumat (13/9).

Menurutnya, tidak banyak angka putus berobat pada TBC SO. Justru angka putus berobat pada TBC RO yang cukup banyak. Hal ini karena efek samping obat cukup banyak. "Efeknya bisa dari ujung rambut sampai ujung kaki, seperti mual, muntah, kesemutan, dan sebagainya," tambahnya.

Pemerintah memberi support bagi pasien RO untuk mendapat pendampingan dan pembiayaan. "Biasanya kan setelah muntah itu tidak bisa bekerja. Makanya pemerintah memberi bantuan," urainya.

TBC akan mudah menular pada orang yang memiliki penyakit diabetes melitus (DM), gizi buruk, dan perokok. Menurutnya, perokok lebih mudah terkena TBC dibandingkan yang non-perokok.

Pengobatan juga lebih sulit pada perokok. Menurutnya, merokok menimbulkan banyak masalah. "Konversi kumannya juga lebih lamban pada perokok. Jadi ini menjadi tantangan," ujarnya.

Ungky menyayangkan banyak iklan rokok di event olahraga, atau event anak muda yang mendapat support rokok. "Seharusnya regulasinya tegas. Sejak awal harus ditanamkan, jangan merokok," terangnya.

Upaya terbaik untuk menekan angka TBC adalah tidak merokok, dan gaya hidup sehat, serta pola makan sehat dan bergizi, olahraga, menghindari stres, dan kontrol kesehatan. Menurutnya, kontrol kesehatan perlu dilakukan sebagai upaya diri melakukan kontrol agar tahu kondisi diri.

"Menghindari merokok itu juga termasuk pada perokok pasif. Bagi perokok aktif yang berhenti merokok satu tahun, maka risiko akan penyakit jantung akan turun. Semakin lama waktu berhenti merokok, risiko yang ditimbulkan makin turun," imbuhnya.

Sumber: SuryaMalang
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved