Breaking News
Selasa, 14 April 2026

Berita Magetan Hari Ini

Cuaca Buruk Pengaruhi Kualitas dan Harga Mangga Harum Manis di Magetan

Mangga Harum Manis menjadi andalan ekonomi warga Magetan, lantaran dikenal dengan aroma khas dan rasa manis.

Penulis: Febrianto Ramadani | Editor: Eko Darmoko
SURYAMALANG.COM/Febrianto Ramadani
Pengepul Mangga di Desa Krajan, Kecamatan Parang, Muhtar (50), menunjukkan kualitas buah dagangan miliknya, Senin (2/12/2024). 

SURYAMALANG.COM, MAGETAN - Mangga Harum Manis menjadi andalan ekonomi warga Magetan, lantaran dikenal dengan aroma khas dan rasa manis.

Namun, datangnya cuaca buruk dinilai telah menurunkan kualitas buah tersebut.

Pengepul mangga di Desa Krajan, Kecamatan Parang, Muhtar (50) mengungkapkan, kualitas yang menurun, menyebabkan harga mangga anjlok akibat pasokan yang melimpah.

Menurutnya, saat ini harganya hanya Rp 4.000 per kilogram, jauh turun dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp 10.000 per kilogram.

“Banyaknya buah yang rusak akibat serangan lalat buah.Produksi memang melimpah, tapi banyak yang rusak."

"Dari satu ton mangga yang kami kirim ke Jakarta, yang return bisa mencapai satu kuintal lebih,” ungkap Muhtar, Senin (2/12/2024).

Jika dibiarkan, lanjut Muhtar, jumlah buah mangga yang dikirim ke Jakarta terus berkurang.

Tahun ini hanya sekitar 200 ton, padahal sebelumnya bisa lebih dari 200 ton.

“Mangga Harum Manis tetap lestari karena selain bernilai ekonomi tinggi, buah ini juga menjadi ikon kebanggaan Magetan,” tuturnya.

Kendati kualitasnya menurun, namun Mangga Harum Manis tetap menjadi ladang penghasilan bagi tengkulak seperti Giman (55).

Dirinya mengaku bisa meraup keuntungan besar setiap musim. Selama empat bulan musim mangga, hasilnya bisa setara dengan dua ekor sapi.

“Kalau trennya lagi bagus, kadang yang didapat hasilnya juga menjanjikan,” imbuhnya.

Hal serupa disampaikan Seorang Petani Mangga di Desa Tapen, Kemis (53).

Baginya, bertani mangga cukup menguntungkan karena tidak memerlukan perawatan khusus seperti buah lainnya.

“Hasilnya lumayan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dari anak sekolah hingga kuliah."

"Beda dengan menanam jati yang butuh waktu 15-20 tahun untuk panen,” tandas Kemis.

 

Sumber: SuryaMalang
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved