Minggu, 19 April 2026

Komunitas Bersepeda di Malang Raya

Pengamat Olahraga Universitas Negeri Malang: Pesepeda Harus Tahu Diri dan Bisa Kendalikan Diri

Muarifin menyarankan masyarakat tidak berolahraga hanya karena ada motivasi dari pihak lain.

Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM/Sylvianita Widyawati
Muarifin 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Semakin banyak bermunculan komunitas sepeda di Malang Raya. Biasanya anggota komunitas ini memiliki waktu khusus untuk bersepeda. Kadang setelah bersepeda ditutup dengan kongkow di tempat tertentu.

Pengamat olahraga Universitas Negeri Malang (UM), Muarifin mengatakan olahraga bersepeda sempat booming ketika pandemi Covid-19.

"Secara filosofis, orang berolahraga harus dimulai dari motivasi atau kesadaran sendiri. Olahraga itu sebagai kebutuhan. Olahraga sudah terbukti menyehatkan. Tapi tidak semua orang punya motivasi intrinsik seperti itu, terutama dalam hal bersepeda," kata Muarifin kepada SURYAMALANG.COM pada 13 November lalu.

Muarifin menyarankan masyarakat tidak berolahraga hanya karena ada motivasi dari pihak lain.

"Misalnya, bersepeda hanya karena tetangga bersepeda atau karena ingin dapat hadiah. Jadi orang yang bersepeda saat pandemi Covid-19 itu kan karena takut kena Covid-19. Karena Covid-19 tidak masuk kalau ada imun di dalam tubuh, akhirnya waktu itu banyak orang yang bersepeda. Bahkan waktu itu untuk membeli sepeda saja harus sampai indent," tambahnya.

Syarat olahraga yang bisa mempertahankan kebugaran adalah olahraga yang bersifat aerobik. Secara prinsip, gerakannya lamban tapi tidak terputus-putus dan terus-menerus. Olahraga itu ada di renang, jogging, dan bersepeda.

Berbeda dengan olahraga yang dalam waktu singkat tapi dengan energi full seperti sprint, atau angkat besi. Olahraga seperti itu bukan olahraga untuk meningkatkan kebugaran jasmani.

Menurutnya, setiap jenis olahraga ada peluang kena cedera, termasuk bersepeda.

"Semua tergantung orangnya. Karena ada pesepeda yang suka lintasan menanjak dan membuatnya ngotot. Kadang hal itu yang menimbulkan cedera," kata mantan Wakil Rektor III UM ini.

Saat paling berbahaya adalah pesepeda itu kurang istirahat pada malam hari, usia agak tua, dan tidak terbiasa olahraga. Makanya sering dijumpai kasus orang kena serangan jantung saat sedang olahraga.

"Sering ada kejadian orang meninggal saat olahraga, Tidak hanya olahraga sepeda, tapi juga tenis. Bisa jadi itu karena gara-gara mereka kurang istirahat, kurang tidur, usia tua, dan secara fisik sudah lemah," tandasnya.

Cedera otot bisa terjadi karena terlalu ngotot saat melaju di tanjakan, atau karena benturan dengan benda lain.

Agar tidak terjadi cedera, pesepeda perlu mengendalikan diri, misalnya dengan mencari rute yang ada jalurnya.

"Kalau di kota kan banyak kendaraan. Saya sarankan pesepeda bersepeda di luar kota dan mencari rute yang relatif masih sepi," imbuhnya.

Pesepeda juga harus tahu diri agar tidak cedera. Pesepeda harus mempertimbangkan jam istirahat malam, kemampuan diri, dan usia. Selain itu, pesepeda juga harus pemanasan sebelum bersepeda.

"Fungsi pemanasan adalah agar pesepeda siap menghadapi beban bersepeda yang lebih berat. Siapkan dulu fisik dan psikisnya agar siap ketika bersepeda," terang Muarifin.

Sumber: SuryaMalang
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved