LIPSUS Imlek 2025 Malang Raya

Jelang Imlek 2025, Permintaan Keranjang Hampers dari Mendong di Wajak Malang Meningkat

Menjelang Tahun Baru Imlek 2025, permintaan keranjang buah dan kue kering dari bahan baku mendong perajin mendong di Desa Blayu, Wajak,meningkat

|
Penulis: Luluul Isnainiyah | Editor: Dyan Rekohadi
SURYAMALANG.COM/Lu'lu'ul Isnainiyah
Kevin Salvava pemilik Sentra Kerajinan Mendong di Desa Blayu, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, Jumat (17/1/2024) 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Menjelang Tahun Baru Imlek 2025, permintaan keranjang buah dan kue kering dari bahan baku mendong meningkat.

Peningkatan ini dirasakan oleh perajin mendong di Desa Blayu, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang.

Kevin Salvava, pemilik Sentra Kerajinan Mendong di desa tersebut mengaku sudah menerima pesanan keranjang untuk Tahun Baru Imlek sebelum Natal 2024 lalu.

"Imlek mulai rame dibeli sebelum natal, sekitar 2 ribuan. Seribu untuk natal dan seribu keranjang untuk imlek," kata Kevin saat ditemui di rumahnya.

Permintaan keranjang ini berasal dari toko buah dan toko kue kering. Karena saat Imlek, pesanan hampers pesanan bingkisan buah dan kue kering akan meningkat.

Kevin pun harus membuat pesanan keranjan sesuai dengan permintaan. Seperti keranjang untuk Imlek dan Natal, ia akan mewarnai keranjang identik dengan hal itu. Seperti warna merah identik dengan imlek.

"Untuk hampers ini, bentuknya oval. Dengan diameter panjang sekitar 30-40 cm dan diameter lebar sekitar 20-25 cm. Biasanya kalau merah imlek dan natal, kalau idul fitri hijau," tandasnya.

Dalam sehari, Kevin menjelaskan bisa menghasilkan 50 anyaman. Baik berupa keranjang, tikar, sandal, dan bentuk lainnya.

Pemasarannya di wilayah Malang Raya, terutama di Pasar Besar Malang. Kemudian untuk luar kota ia menjualnya ke Lumajang, Gresik, Madiun, Surabaya, dan Ponorogo.

"Harganya tergantung model. Paling mahal Rp 70 ribu ke atas, paling murah Rp 4 ribu. Harga grosir per set, bisa isi dua sampai tiga buah," tuturnya.

Untuk bahan baku, Kevin mengaku tak hanya menggunakan mendong. Ia juga menggunakan bahan bambu dan rotan. Hal ini dilakukan karena tanaman mendong jarang ditemukan.

 

Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved