Polemik Pembangunan PLTS Terapung Bendungan Karangkates Malang, Potensi Kehilangan Ribuan Ton Ikan

Polemik Pembangunan PLTS Terapung Bendungan Karangkates Malang, Potensi Kehilangan Ribuan Ton Ikan

Penulis: Imam Taufiq | Editor: Eko Darmoko
SURYAMALANG.COM/Imam Taufiq
PLTS TERAPUNG: Zulham Ahmad Mubarrok, anggota DPRD Kabupaten Malang dari PDI Perjuangan, Kamis (30/01/2025). Zulham meminta PLN Nusantara Renewables mengkaji ulang penentuan titik pembangunan PLTS di Kabupaten Malang. 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung, di Bendungan Karangkates, Kabupaten Malang, disinyalir bakal memicu pro dan kontra.

Sebab, jika itu tak dikaji sungguhan, keberadaan PLTS itu bakal membuat nelayan setempat akan kehilangan mata pencarian yang sudah ditekuni secara turun-temurun itu.

Kepedulian itu disampai Zulham Ahmad Mubarrok, anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Malang, usai mendapat pengaduhan dari warga yang jadi nelayan di bendungan yang diresmikan Presiden Suharto tahun 1977 itu.

Menurutnya, rencana pembangunan PLTS terapung itu berpotensi buruk pada ekosistem hewan yang ada di bendungan yang dikelola Jasa Tirta I itu.

Bahkan, dampaknya itu diprediksi akan membuat para pencari ikan kehilangan tangkapannya sekitar 1.057 ton per tahun.

”Kami tidak menolak pembangunan PLTS. Namun, kami minta PLN Nusantara Renewables mengkaji ulang penentuan titik pembangunan PLTS itu."

"Tujuannya, agar tidak merugikan warga yang sudah turun-temurun menggantungkan hidupnya jadi nelayan,” ujar Zulham, anggota dewan dari PDI Perjuangan, Kamis (30/1/2025).

Kabar rencana pembangunan PLTS terapung itu, lanjut Zulham, yang juga pembina Pemuda Tani Indonesia (PTI) Kabupaten Malang itu kini membuat nelayan resah.

Terutama, kelompok Keramba Jaring Apung (KJA), yang berjumlah 141 orang dengan 705 petak keramba ikan yang ada di bendungan yang selama ini airnya juga dipakai buat membangkitkan PLTA, yang dikelola PLN Unit Brantas itu.

"Jika kelak ada PLTS Terapung, maka potensi berkembang-biaknya ikan akan menurun dratis."

"Saat ini, rata-rata setiap petak per tahunnya mampu menghasilkan ikan 1,5 ton."

"Namun, jika ada PLTS itu, para nelayan berpotensi kehilangan pasokan sekitar 1.057 ton per tahun," tutur Zulham, anggota dewan baru namun dikenal cukup kritis dan cepat tanggap atas persoalan warga.

Karuan, jika itu tetap dilanjutkan dan membuat budidaya ikan air tawar jadi merosot, lanjut pria yang banyak memimpin berbagai organisasi kepemudaan ini, menilai tak sejalan dengan program Presiden RI Prabowo Subianto tentang ketahanan pangan.

Apalagi, hasil budidaya di bendungan ini merupakan penyedia stok terbesar ikan air tawar di pasar Jawa Timur.

"Maka, kami minta keinginan PLN seperti itu jangan sampai berbenturan dengan kebutuhan perut nelayan, biar tak jadi pemicu konflik," papar Zulham, yang dikenal juga sebagai hacker, yang kemampuannya tiga digit di bawah Jim Geovedi, hacker Indonesia yang pernah menggeser Satelit China dan Satelit Indonesia itu.

Halaman
12
Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved