Muhadjir Effendy Dikukuhkan sebagai Guru Besar Universitas Negeri Malang

Prof Dr Drs Muhadjir Effendy MAP bakal dikukuhkan sebagai guru besar Universitas Negeri Malang (UM) di Graha Cakrawala, Kamis (13/2/2025).

SURYAMALANG.COM/Sylvianita Widyawati
PENGUKUHAN GUBES UM - Prof Dr Drs Muhadjir Effendi MAP (kemeja putih) dikukuhkan sebagai guru besar Universitas Negeri Malang (UM), Kamis (13/2/2025). Dalam konferensi pers usai gladi bersih, Rabu sore (12/2/2025), mantan Mendikbud, Menko PMK dan kini menjadi penasihat khusus presiden bidang haji itu didampingi Prof Dr AH Rofi'uddin MPd, Ketua Senat Akademik Universitas (no 3 dari kiri), Rektor UM Prof Dr Hariyono MPd (paling kanan) dan Ketua Komisi Guru Besar UM Prof Dr Ir Syaad Patmanthara MPd (paling kiri). 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Prof Dr Drs Muhadjir Effendy MAP bakal dikukuhkan sebagai guru besar Universitas Negeri Malang (UM) di Graha Cakrawala, Kamis (13/2/2025).

Pada Rabu (12/2/2025) sudah banyak datang papan ucapan dari berbagai rektor dan instansi lainnya.

Saat ini ia menjabat sebagai penasehat khusus Presiden RI bidang haji di kabinet Prabowo Subianto.

Prof Muhadjir Effendy sebenarnya sudah mendapat SK sebagai guru besar UM pada 2014. Tapi karena kesibukannya, ia baru dikukuhkan sekarang. Atau 11 tahun kemudian.

Ia adalah guru besar Ilmu Sosiologi di Departemen Pendidikan Luar Sekolah FIP UM. Menurut Rektor UM Prof Dr Hariyono MPd, Prof Muhadjir adalah dosen UM.

"Sehingga beliau kalau di UMM (Universitas Muhammadyah Malang) adalah dikaryakan."

"Ini yang menarik. Selain Pak Muhadjir, juga ada orang-orang UM mendapat tugas di tempat lain."

"Dan hebatnya Pak Muhadjir ketika dikaryakan langsung jadi WR 3, WR 1 dan rektor tiga periode di UMM," ungkap Rektor UM.

Ini menandakan bahwa UM sebagai kampus inklusif. Di mana banyak warganya yang memiliki berbagai orientasi pemikiran, intelektual.

"UM sebagai perguruan tinggi terbuka untuk siapapun. UM bagian dari Indonesia yang inklusif."

"Pak Muhadjir di bidang keilmuannya juga inklusif. Tidak ada liniaritas antara sarjana mudanya, S1, S2 dan S3. PNS kok ngurusi militer karena ia dikenal sebagai pengamat militer," papar Hariyono.

Hal ini membuat Prof Muhadjir meski senior, gelar Gubes-nya terlambat karena saat ini ada rezim linieritas keilmuan.

"Tapi dalam perkembangan keilmuan beliau, bahwa inklusifitas itu dalam bidang keilmuan itu banyak muncul."

"Itu bukan hal baru dalam intelektual budaya Jawa. Ada Joko Lelono. Dulu orang berguru itu pasti padepokannya gonta ganti. Di masa Islam, ada santri lelono. Dan beliau karena sebagai santri tidak mau kuliah di satu tempat," jelasnya.

Sedangkan Prof Dr AH Rofi'uddin MPd, Ketua Senat Akademik Universitas mengatakan, saat ia menjadi Wakil Rektor UM, ia juga selalu mengecek apakah Prof Muhadjir masih aktif di jurusan.

Halaman
123
Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved