Jumat, 1 Mei 2026

Jelang Idul Adha, 50 Persen Stok Sapi Milik Pedagang di Surabaya Ludes Terjual

Hingga Selasa (27/5/2025) atau sekitar 10 hari menjelang hari H Idul Adha, stok sapi pedagang mulai berkurang signifikan.

Tayang:
SURYAMALANG.COM/Bobby Koloway
JELANG IDUL ADHA - Seorang pedagang sedang merawat sapi di sebuah lapak penjualan hewan kurban di Surabaya. Penjualan hewan kurban di Surabaya pada 2025 diprediksi meningkat dibanding tahun sebelumnya. 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Penjualan hewan kurban di Surabaya pada 2025 diprediksi meningkat dibanding tahun sebelumnya.

Hingga Selasa (27/5/2025) atau sekitar 10 hari menjelang hari H Idul Adha, stok sapi pedagang mulai berkurang signifikan.

Pedagang di kawasan Kelurahan Ketintang, Kecamatan Gayungan, bernama Rachmad Wiyono misalnya. Dari 90 ekor sapi yang disiapkan, baru sekitar 45 ekor yang telah terjual.

"Jadi, memang hari-hari ini butuh marketing (jasa pemasaran) yang andal. Kita sekarang baru 50 persen yang sudah keluar dari 90 ekor itu," kata Rachmad ketika ditemui SURYAMALANG.COM di lapaknya.

Pedagang yang sudah 10 tahun berjualan di Surabaya ini memprediksi puncak penjualan akan terjadi pada akhir pekan ini. Hingga H+1 Idul Adha, pihaknya menargetkan dapat menjual sekitar 100 ekor sapi.

"Masih ada waktu sekitar 10 hari lagi. Biasanya, Sabtu-Minggu atau tanggal merah banyak yang baru beli karena orang bisa lihat produk atau liat stok jualan nanti ketika hari-hari mereka tidak bekerja," tandas pedagang asal Probolinggo tersebut.

Target penjualan tersebut relatif meningkat dibanding total penjualan di tahun sebelumnya. Pada 2024 lalu, pihaknya baru bisa menjual sekitar 87 ekor sapi. Dengan pemulihan ekonomi dan isu Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang mereda, pihaknya optimis angka penjualan bisa meningkat.

Menurutnya, Surabaya masih menjadi target utama penjualan. Sekalipun harus bersaing dengan banyak pedagang lainnya, pasar hewan kurban di Kota Pahlawan tetap menjanjikan.

"Kalau di Surabaya, kebanyakan yang beli sapi merupakan pengorban kolektif (patungan)," tandasnya.

Dari total sapi yang terjual, mayoritas merupakan sapi ras Madura. Di samping itu, dia juga menyiapkan sapi limousin.

Sapi di lapak tersebut dijual mulai dari Rp 16,5 juta hingga Rp 31 juta per ekor. Menurutnya, masing-masing ukuran memiliki pasar yang berbeda.

"Sapi Madura itu kulitnya sedikit, tulangnya kecil, lebih banyak dagingnya. Itu yang saya alami sehingga kita jualan relatif banyak untuk sapi Madura," tuturnya.

"Untuk pencariannya sendiri pada peternak lebih mudah. Kita carinya di rumah-rumahnya orang."

"Peternakan di teman-teman Madura lebih banyak karena orang berpikir memelihara sapi besar itu resikonya juga lebih besar, sedangkan harganya (biayanya) juga relatif lebih banyak," tandasnya.

Untuk menjaga kepercayaan pelanggan, pihaknya memastikan menjual sapi sesuai syarat dari pemerintah dan syariat agama. Hal ini dilengkapi dengan dokumen perizinan yang lengkap sejak dari peternakan.

Sumber: SuryaMalang
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved