Malang Raya

Gending Malang Harus Dimainkan dengan Bebauan Dupa, Ini Alasannya

Penulis: Adrianus Adhi
Editor: fatkhulalami
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Suasana latihan para pemain Gending Malang sebelum didokumentasikan, serta menjadi bahan perkuliahan di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo.

“Ketika tiba di sana, masyarakat tahu. Oh.. saya ada di Semarang karena gendingnya berbeda,” katanya.

Sumantri memaparkan gending Malang memiliki banyak perbedaan dari gending yang lain. Perbedaan pertama adalah ukuran kendang yang lebih besar. Perbedaan kedua adalah tambahan Patet Miring dalam sebuah komposisi.

Patet miring ini merupakan patet yang ditambahkan sebelum Patet Serang, atau setelah Patet Sembilan.

“Misalnya nadanya diawalnya lima, lalu akhirnya adalah lima. Maka sebelum lima yang terakhir, ada empat, tiga, tergantung dari komposisinya. Patet Miring ini transisi,” jelasnya.

Perbedaan yang lain, nada Gending Malang terdengar ritmik, dan membuat yang mendengar untuk bergerak alias menari.

Dan yang juga menarik, gending Malang juga harus dimainkan dengan bebauan dupa.

Menurut, Suwarno (56), rekan Sumantri yang turut dalam nostalgia gending Malang kala itu, menyan dan dupa selalu ada selama pertunjukan.

“Tradisi di Malang adalah bakar menyan, dupa, lalu gending dibunyikan,” jelasnya.

Dosen Program Studi Tari dan Musik Fakultas Sastra Unversitas Negeri Malang, Robby Hidayat, yang hadir dalam pertunjukkan tersebut menambahkan Gending Malang kini semakin langka, seiring perkembangan jaman.

Menurutnya, Gending Malang dahulu dimainkan untuk mengiringi seni tari topeng, tayup, ludruk, wayang topeng dan wayang kulit. Kini hanya teri topeng, dan wayang topeng yang diiringi gending Malang. Walau begitu, jumlah seniman yang menggunakan gending ini sedikit.

Selain tak pernah dipopulerkan, Robby menilai Gending Malang digolongkan pelaku kesenian dalam kelas dua. Akibatnya, masyarakat saat ini masih beranggapan bahwa kasta utama kesenian tradisional adalah yang berasal dari Kerajaan Mataram, atau yang berbasis di Solo dan Yogyakarta.

“Pertunjukan wayang sekarang rasa Jawa Tengah," ujarnya.

Robby menambahkan usaha untuk mendokumentasikan Gending Malang kini mulai berdatangan. Selain dari kaum akademisi di Malang, Institut Seni Indonesia (ISI) di Solo juga tertarik mendokumentasikannya. Mereka datang pada Rabu Sore.

Tak hanya itu, Gending Malang juga akan menjadi bahan perkuliahan mahasiswa jurusan pedalangan dan karawitan di Solo.

Lalu bagaimana dengan Malang? Jawaban itu masih belum bisa disampaikan.

Berita Terkini