Kabar Surabaya

Pemuda Tionghoa-Jawa Bersatu di Tarian Singa, Berharap Tahun Baru Imlek Ini Indonesia Lebih Maju

Editor: Dyan Rekohadi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Sejumlah pengunjung menonton atraksi Liong-liong dan barongsai di Royal Plasa Surabaya, Jumat (24/1/2020), Pertunjukkan ini digelar untuk merayakan Tahun Baru Imlek.

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Perayaan Tahun Baru Imlek tidak bisa dipisahkan dengan atraksi kesenian barongsai dan leang-leong. Pertunjukan tarian singa dan naga ini selalu menjadi daya tarik sendiri bagi masyarakat menyaksikannya.

Singa dipercaya sebagai binatang yang baik. Orang-orang yang melakukan tarian tersebut melambangkan pembawa keberuntungan, dan kekuatan untuk mengusir roh-roh jahat.

Tari barongsai selalu menampilkan warna merah dengan tujuan menciptakan suasana meriah, serta membawa kebahagiaan bagi para penonton.

Berita Arema Hari Ini Populer, Cara Mario Gomez Bentuk Klub Tangguh dan Jadwal 3 Pemain Asing Tiba

Rencana Ground Breking Bandara Kediri Ditetapkan 16 April 2020, Masalah Lahan Dituntaskan Februari

Atraksi barongsai dilakukan dua penari dengan mengenakan kostum singa. Penari  di posisi depan akan menjadi bagian depan tubuh singa, sementara penari di belakang akan menjadi bagian tubuh belakang singa.

Mereka kemudian menari sambil diiringi alunan musik dan bunyi petasan yang keras. Seperti gendang, simbal, dan gong.

Salah satu klub barongsai yang menampilkan kekuatan penuh pada momen Imlek di Klenteng Sanggar Agung, Kenjeran, Kota Surabaya.

Namanya Tim Tarian Singa dan Naga Ksatria. Klub yang terbentuk pada 2005 ini beranggotakan sekitar 39 orang dari berbagai penjuru di Surabaya.

Terdiri anggota suku Jawa 10 orang, dan Tionghoa 20 orang, ditambah partisipan Jawa lima dan Tionghoa empat orang Steering Comitte .

Sejumlah pengunjung menonton atraksi Liong-liong di Royal Plasa Surabaya, Jumat (24/1/2020), Pertunjukkan ini digelar untuk merayakan Tahun Baru Imlek. (SURYAMALANG.COM/Sugiharto)

Tim Tarian Singa dan Naga Ksatria Citra Satria Ongkowijoyo mengatakan, semua anggota berasal dari berbagai suku. Tanpa memperhatikan  warna kulit, ras, dan agama yang dianut.

Menurutnya, banyaknya orang yang masuk klub tersebut dengan berbagai latar belakang menunjukkan tari barongsai dan leang-leong diterima oleh masyarakat luas.

“Kami ingin menunjukkan bahwa tim ini adalah pluralisme. Semuanya ada di sini,” ujarnya, Jumat (24/1/2020).

Beberapa tahun lalu, Tim Tarian Singa dan Naga Ksatria pernah menorehkan rekor dengan bermain sebanyak 85 kali selama dua minggu.

Mereka bisa melakukan 120 kali pementasan selama 1 tahun di luar Hari Raya Imlek.

Saat ini mereka mendapatkan panggilan pementasan di 11 tempat yang berbeda. “Kami sering main di luar momen Imlek. Seperti peresmian pabrik, mantenan, khitan, sehingga barongsai tidak hanya eksklusif dengan golongan tertentu,” imbuhnya.

Di tengah zaman yang modern, lanjut Citra, Tim Tarian Singa dan Naga Ksatria telah melakukan berbagai inovasi. Tujuannya untuk mempertahankan dan melestarikan budaya tersebut kepada generasi yang akan datang.

“Kami ingin menampilkan kebudayaan yang sering dianggap kuno oleh orang lain. Dengan cara berbagai upaya yang tidak berlebihan. Seperti menampilkan skenario yang cantik, yaitu membagikan buah seperti jeruk atau suvenir lainnya yang sesuai dengan tahunnya. Untuk saat ini kan Tahun Tikus, kami telah menyiapkan suvenir itu kepada para penonton,” jelasnya.

Citra Satria berharap, di Tahun Imlek 2020 masyarakat Indonesia diberi kesehatan dan kesuksesan demi masa depan yang lebih baik.

“Semoga di tahun ini Indonesia harus lebih maju dan lebih baik dari tahun tahun sebelumnya,” ucapnya.

Salah satu anggota barongsai Tim Tarian Singa dan Naga Ksatria dari suku Jawa, Ahmad Rifai (28), mengaku bergabung dengan klub itu karena alasan budaya, hobi, dan olahraga. Rifai menjadi anggota sejak 2005.

“Pertama kali gabung kesulitannya pada awal-awal latihan.  Sebelum latihan barongsai harus berlatih kuda kuda, kemudian latihan fisik, dan bela diri wushu,” ungkap pria yang juga bekerja sebagai pengusaha dekorasi dan renovasi rumah ini.

Rifai juga menambahkan, melalui klub Tim Tarian Singa dan Naga Ksatria ini para anggota jadi lebih mengenal banyak orang melalui perkumpulan rutin yang diadakan seminggu dua kali.

“Selama jadi anggota, kami sudah mengikuti banyak kompetisi dengan torehan masuk 10 besar. Kalau cerita sukses saya, melalui barongsai saya mendapatkan perempuan idaman sehingga bisa melanjutkan ke jenjang pernikahan,” terang Ahmad Rifai.

Hal serupa juga diutarakan Budi Hartanto (30), keturunan Tionghoa. Kesukaannya berolahraga menjadi alasan dia menjadi anggota klub barongsai pada 2007.

Menurutnya, barongsai merupakan olahraga yang jarang dilakukan oleh sebagian masyarakat.

“Secara keseluruhan, saya membantu teknik dasarnnya dengan memberikan materi supaya punya pegangan dalam menguasai barongsai,” imbuh pria juga seorang dokter gigi ini.

Di tahun Imlek kali ini, Budi berharap budaya di Indonesia terus berkembang dan beraneka ragam. Serta tidak ada lagi isu SARA yang menyerang masyarakat. Mengingat para anggota Tim Tarian Singa dan Naga Ksatria berbaur menjadi satu.

“Semoga Tim Tarian Singa dan Naga Ksatria lebih maju lagi dan aktif dalam semua kompetisi,” pungkasnya.

Sementara itu, para pengunjung yang memadati atrium Royal Plaza Surabaya, Jumat (24/1/2020), merasa terhibur dengan atraksi kesenian barongsai dan leang-leong di pusat perbelanjaan tersebut.

Tak sedikit pula yang berteriak memanggil barongsai di tengah-tengah pertunjukan supaya dihampiri.

(Tim liputan SURYA)

Berita Terkini