Berita Malang Hari Ini

Komunitas Mapa Quilt Menolak Tangan Menganggur karena Bisa Hasilkan Cuan

Penulis: Sylvianita Widyawati
Editor: rahadian bagus priambodo
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Tiwuk Purwati, Ketua Mapa Quilt (kanan) dengan karya bed cover tentang kampung warna warni bersama pembelinya (kiri).

30 Blok itu disatukan dan menjadi sebuah cerita. Lusiana Limono, anggota komunitas menyatakan saat awal pandemi Covid 19 pada 2020, pemerintah memberlakukan PPKM dururat oleh pemerintah membuat ibu-ibu galau.

Sebab pekerjaan di rumah makin banyak karena seluruh anggota keluarga di rumah. Akhirnya keresahan itu dituangkan dalam lembaran kain.

Setelah jadi, Ia minta bantuan Tiwuk untuk melakukan quilting. Ada yang membuat gambar corona, berkebun, trend bersepada dll.

"Untuk karya bersama itu tidak dijual karena jadi tetenger. Karya tekstil itu tidak melulu jadi komoditas," kata akademisi ini. 

Namun itu bisa jadi catatan Sejarah selama pandemi. Hal serupa juga pada motif batik dimana ada cerita dibalik itu.

"Kalau ini kan perca dalam kondisi kekinian. Setiap karya ada ceritanya," ujar dia. Ia senang bergabung dengan komunitas ini karena bisa tukar ilmu.

"Banyak ilmu-ilmu tercecer yang bisa disatukan dan bisa saling mengisinya. Kalau kerja sendiri-sendiri, hasilnya begitu saja. Dengan ada komunitas, maka bisa mengisi yang bolong-bolong," pungkasnya.

Berita Terkini