Trans Jatim Malang Raya

Kekhawatiran Organda Kota Batu pada Program Bus Trans Jatim Malang Raya : Seolah Suntik Mati Angkot

Penulis: Dya Ayu
Editor: Dyan Rekohadi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

FOTO DOKUMENTASI TERMINAL KOTA BATU - Jajaran angkutan umum di Terminal Kota Batu, Jalan Dewi Sartika. Organda Kota Batu berharap beroperasinya Tans Jatim tidak menjadikannya sebagai 'pembunuh' angkotan umum atu Angkot di kota Batu

SURYAMALANG.COM, BATU - Kekhawatiran para sopir angkutan umum di kota Malang terkait adanya bus Trans Jatim Malamg Raya mulai muncul.

Para sopir merasa angkutan umum seolah disuntik mati secara perlahan dengan dioperasikannya bus Trans Jatim.

Kekhawatiran itu tentunya tak lepas dari kondisi angkutan umum, khususnya angkot di kota Batu saat ini yang semakin sepi penumpang.  

“Kami berharap pemerintah dalam setiap kebijakan supaya memperhatikan keterlibatan masyarakat. Maka harus betul-betul dikaji formulasinya supaya program Trans Jatim tidak merugikan lapisan masyarakat lainnya," ujar Sekjen Organda Kota Batu, Nur Mochammad kepada Suryamalang.com, Senin (7/7/2025).

Seperti diketahui moda transportasi angkutan dalam kota saat ini sedang lesu. 

"Saya khawatir ketika Trans Jatim koridor Malang Raya ini beroperasi seolah angkutan umum ini seperti di suntik mati,” kata Nur Mochammad.

Seperti diberitakan sebelumnya, Program Bus Trans Jatim wilayah Malang Raya rencananya mulai beroperasi pada bulan Oktober mendatang .

Dari hasil rapat Dinas Perhubungan Provinsi Jatim di Malang bersama dengan dishub Malang Raya dan beberapa dinas terkait lainnya pada Rabu (25/6/2025) lalu di Bakorwil Kota Malang, nantinya bus Trans Jatim Malang Raya sementara satu koridor, yakni Terminal Hamid Rusdi-Terminal Landungsari-Terminal Batu.

Selain itu juga akan dibangun beberapa titik halte yang ada di Kota Malang, Kota Batu dan Kabupaten Malang.

Khusus untuk Kota Batu akan ada tiga titik lokasi, yakni di depan SMPN 3 Batu, Depan Jatim Park 3 dan di Pendem.

Nur Mochammad mengatakan, baiknya pemerintah Provinsi Jatim harus turun langsung melihat kondisi di Terminal Kota Batu yang aktivitasnya memprihatinkan, karena banyak angkot yang parkir karena sepi penumpang.

Bahkan untuk memberdayakan para sopir angkut agar dapat menyambung hidup, Pemkot Batu melibatkan para sopir angkot untuk menjalankan program Angkutan Pelajar Gratis (Apel Gratis) setiap harinya.

“Supaya setiap rumusan kebijakan ini bottom up. Ketika program itu terlaksana memang membawa kesejahteraan terhadap masyarakatnya. Saya rasa dalam hal penataan ini Pemprov Jatim wajib berkiblat kepada Pemkot Batu bagaimana kepala daerah mengadakan program Angkutan Pelajar Gratis yang manfaatnya dirasakan, baik dari sisi masyarakat sebagai penumpang dan juga dampak ekonomis kepada pengemudi angkutan,” jelasnya.

Sementara itu Ketua Komisi C DPRD Kota Batu, Dewi Kartika menuturkan pihaknya menyambut baik adanya program bus Trans Jatim Malang Raya ini, karena dinilai akan dapat mendongkrak angka kunjungan wisata ke Kota Batu dan menjadi solusi kemacetan yang terjadi di Kota Batu.

Kartika berpesan, untuk menghindari dan mengantisipasi adanya gejolak di masyarakat, khususnya sesama angkutan darat seperti angkot yang sebelumnya sudah beroperasi di Malang Raya, penting adanya komunikasi antar pihak terkait.

“Yang penting ada koordinasi dan sosialisasi antar Penerintah Malang Raya dan provinsi, sehingga adanya bus trans Malang Raya ini tidak mematikan angkot atau angkutan lainya yang sebelumnya sudah ada di Malang Raya, sehingga bisa saling bersinergi,” ujar Kartika.(myu)

Berita Terkini