Breaking News
Kamis, 4 Juni 2026

Kota Batu

Harga Emas Melejit Naik, Toko Emas di Kota Batu Relatif Sepi Pembeli

Beberapa kios toko emas yang berjejer di lantai dua Pasar Induk Among Tani Kota Batu juga nampak lengang pembeli, Kamis (29/1/2026)

Tayang:
Penulis: Dya Ayu | Editor: Dyan Rekohadi
SURYAMALANG.COM/Dya Ayu
TOKO EMAS BATU - Aktivitas jual beli emas di Pasar Induk Among Tani Batu cenderung sepi, Kamis (29/1/2026). Seiring naiknya harga emas di Indonesia, Masyarakat cenderung memilih menyimpan dan tak menjual emas yang dimiliki sekarang dengan harapan harganya akan terus naik 

Isu konflik di berbagai wilayah dunia, termasuk meningkatnya tensi politik internasional yang melibatkan negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Iran, menciptakan ketidakpastian ekonomi global.

“Ketika isu perang dan konflik geopolitik menguat, investor cenderung menghindari aset berisiko. Mereka akan memindahkan dananya ke aset yang lebih aman atau safe haven, salah satunya emas. Permintaan meningkat, otomatis harga ikut terdorong naik,” jelasnya.

Selain faktor geopolitik, Achmad juga menyoroti peran inflasi dalam menentukan arah harga emas.

Menurutnya, emas memiliki fungsi sebagai lindung nilai (hedging) terhadap penurunan daya beli uang.

“Ketika inflasi naik, nilai uang akan tergerus. Dalam kondisi seperti ini, menyimpan dana dalam bentuk emas jauh lebih aman dibandingkan menyimpan uang tunai, deposito, atau bahkan mata uang asing,” katanya.

Baca juga: Harga Emas Tua Perhiasan Sentuh Rp 2,1 Juta, Toko Emas di Kota Malang Didatangi Warga

 

Instrumen Investasi Menarik

Menanggapi harga emas yang kini telah menembus Rp3 juta lebih per gram, Achmad menilai bahwa emas masih menarik sebagai instrumen investasi, namun dengan catatan tertentu.

Menurutnya, keputusan membeli emas harus disesuaikan dengan tujuan dan jangka waktu investasi.

“Kalau investasi jangka pendek, misalnya kurang dari satu tahun, emas saat ini cukup berisiko karena harganya bersifat fluktuatif atau volatile. Bisa naik dan turun dalam waktu singkat,” jelasnya.

Namun, bagi investor jangka panjang, emas masih dinilai layak dipertimbangkan. Achmad menyarankan masyarakat untuk tidak terlalu terpaku pada waktu terbaik membeli emas, melainkan fokus pada konsistensi investasi.

“Dalam investasi itu tidak ada waktu yang benar-benar paling tepat. Yang terpenting adalah niat dan konsistensi. Bisa melalui pembelian tunai jika punya dana lebih, atau memanfaatkan program cicil emas dan tabungan emas yang ditawarkan perbankan,” ujarnya.

Ia juga menilai bahwa skema cicil emas atau tabung emas menjadi solusi yang aman bagi masyarakat dengan dana terbatas, terutama di tengah kondisi ekonomi global yang belum stabil.

“Program cicil emas masih worth it. Biasanya harga sudah disepakati di awal, lalu dicicil secara flat setiap bulan. Ini jauh lebih aman dan terencana, apalagi di tengah isu geopolitik yang belum mereda,” kata Achmad.

Terkait kekhawatiran akan isu perang dunia, Achmad menilai bahwa masyarakat tidak perlu panik berlebihan. Menurutnya, isu perang global masih sebatas spekulasi dan belum tentu benar-benar terjadi.

“Isu-isu seperti perang dunia ketiga sering kali digoreng dan dibesar-besarkan. Tapi justru karena isu itu, harga emas cenderung naik. Maka dari itu, investasi emas tetap relevan sebagai langkah antisipasi,” pungkasnya.

Dengan berbagai faktor tersebut, emas diperkirakan masih akan menjadi primadona investasi di tengah ketidakpastian ekonomi global. Ia juga menghimabua agar masyarakat diimbau berinvestasi secara bijak. "Tentu yang perlu diterapkan ialah menyesuaikan dengan kemampuan finansial, serta mempertimbangkan tujuan jangka panjang," tutupnya.

(Dya Ayu/Fikri Firmansyah)

Sumber: SuryaMalang
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved