Sabtu, 2 Mei 2026

Jember

Mencekik Ibunya, Remaja ODGJ di Jember Dipasung Keluarga Selama 1,5 Bulan, Kini Dibebaskan Dinsos

Mencekik Ibunya, Remaja ODGJ di Jember Dipasung Keluarga Selama 1,5 Bulan, Kini Dibebaskan Dinsos

Tayang:
Editor: Eko Darmoko
SURYAMALANG.COM
DIPASUNG - Pelepasan pasung kayu di kaki MAM di dalam rumahnya di Kecamatan Mayang, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Rabu (1/4/2026). Remaja ODGJ ini sudah 1,5 bulan hidup dalam pasungan kayu. 

Ringkasan Berita:
  • Remaja berusia 16 tahun di Kecamatan Mayang, Kabupaten Jember, kakinya dilepas dari pasung
  • Ia dipasung selama 1,5 bulan di dalam ruang sederhana berlantai tanah, karena mengalami ganguan jiwa sejak ayahnya meninggal dunia
  • Tim Dinsos Jatim memandikan dan membersihkan tubuh remaja ODGJ tersebut, setelah itu dilakukan pemeriksaan kesehatan oleh Nakes Puskesmas setempat

Laporan Imam Nawawi

SURYAMALANG.COM, JEMBER - Remaja berinisial MAM (16) di Kecamatan Mayang, Kabupaten Jember, kakinya lepas dari pasungan setelah dibebaskan Dinas Sosial (Dinsos) Jatim.

Remaja laki-laki tersebut sudah 1,5 bulan dipasung keluarganya di dalam ruang sederhana berlantai tanah, karena mengalami ganguan jiwa sejak ayahnya meninggal dunia.

Tim Relasi Cepat Dinsos melepas pasung kayu yang dikunci dengan rantai itu menggunakan tang.

MAM berpakaian kemeja putih dan sarung biru, tersenyum lebar tampak bahagia ketika pasung tersebut terlepas dari kedua kakinya.

Kemudian, remaja ODGJ ini dibopong keluar rumah, karena langkah kakinya begitu lemah dan kaku akibat dipasung sejak pertengahan Februari 2026 lalu.

Setelah itu, Tim Dinsos Jatim memandikan dan membersihkan tubuh remaja ODGJ tersebut, setelah itu dilakukan pemeriksaan kesehatan oleh Nakes Puskesmas setempat.

Tumyati, ibu MAM, matanya tampak berkaca-kaca dan lebam saat menyuapi makan putranya sebelum dibawa oleh Tim Dinsos Jawa Timur.

Baca juga: Tragedi Selfie di Area Ekstrem Pantai Papuma Jember: 3 Pemuda Tersapu Ombak Ganas, 1 Orang Hilang

"Harapannya MAM ini ke depan dibawa pihak JSC ini Semoga lebih membaik dan sembuh total," ujar Tumyati kepada SURYAMALANG.COM, Kamis (2/4/2026).

Menurutnya, sejak ayahnya meninggal dunia, mental putranya tidak stabil, sering ngamuk bahkan nyerang orang di sekelilingnya.

"Merusak barang-barang di rumahnya, bahkan saya dicekik," ungkapnya.

Hal itu membuat keluarga memutuskan secara terpaksa memasung putra sulungnya tersebut. Kata Tumyati, demi keselamatan orang lain di sekitar.

"Sejak saat itu keputusan memasung MAM itu dibuat bersama keluarga besar," ulasnya sambil memejamkan mata.

Sejak suaminya meninggal tiga bulan lalu, Tumyati hanya tinggal berdua bersama MAM di rumah sederhana berlantai tanah.

"Anak sulung ikut suami dan anak keduanya tinggal dengan sang bibi."

Sumber: SuryaMalang
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved