Malang Raya
Lihat Sampah, di Kepala Sudah Ada Ide Bikin Produk yang Bermanfaat
Kader lingkungan di Kepanjen yang dikenal sebagai kota Adipura memiliki Green Community Kepanjen Ijo. Kegiatannya seperti pelatihan, pemberdayaan
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.COM, KEPANJEN - Kader lingkungan di Kepanjen yang dikenal sebagai kota Adipura memiliki Green Community Kepanjen Ijo. Kegiatannya seperti pelatihan, pemberdayaan dan kewirausahaan.
"Kita binaan Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang," ungkap Achmad Shodiq, koordinator Green Community Kepanjen Ijo kepada SURYAMALANG.COM, Kamis (22/10/2015).
Menurutnya, kegiatan komunitasnya adalah bagian dari delapan atribut kota hijau Kepanjen. Selain melakukan penghijauan, penyuluhan, bank sampah dll. Kehadirannya sejak 2013. Kebanyakan yang terlibat adalah kader lingkungan ibu-ibu karena lebih telaten.
"Kalau butuh perjuangan dan amal, silahkan terjun ke Green Community Kepanjen Ijo," ujar warga Desa Mangunrejo, Kecamatan Kepanjen ini.
Di Kepanjen, katanya, ada 50 kader lingkungan. Kegiatan yang menyenangkan di komunitas ini seperti pemanfaatan limbah sampah menjadi nilai ekonomis. Entah menjadi kompos atau mendaur ulang sampah menjadi produk barang. Dari anggota komunitas ini ada yang kreatif membuat kerajinan tangan. Salah satunya adalah Ny Listianing Wahyu, warga Desa Sukoraharjo, Kepanjen.
"Kalau lihat sampah, di kepala ini sudah ada ide bikin ini itu," ungkap Ny Lis.
Seperti ketika mendapatkan bungkus kopi. Kualitas bungkus itu cukup bagus. Dengan keterampilan tangannya, maka bisa menjadi tas jinjing.
"Bungkus kopinya saya cuci dulu. Setelah itu diproses jadi tas. Bisa selesai dua hari," ungkap wanita berhijab ini.
Bungkus kopi bisa memanfaatkan bank sampah yang ada. Sedang untuk perlengkapan pendukung tas, memang masih harus beli, seperti bahan kayu atau aksesoris lainnya. Harga tas bisa dijual sekitar Rp 100.000. Selain tas, sampah-sampah dari bank sampah bisa dibuat peralatan lain.
Ia mencontohkan hiasan toples plastik memanfaatkan bekas sendok plastik putih yang sudah dibuang. Setelah dibersihkan, dipotong maka bisa dimanfaatkan jadi hiasanya. Begitu juga bekas bungkus rokok juga termanfaatkan untuk hiasanya toples. Gelas-gelas mineral yang terbuang juga bisa dibuat tudung saji kecil.
Ada juga yang dijadikan hiasan lampu yang bisa dijual Rp 400.000 dengan memanfaatkan limbah botol minungan ringan. Bagian bawah botol setelah digunting dengan alat khusus ternyata menghasilkan pernik menarik.
Limbah botol plastik minuman ringan juga bisa dibuat lampion atau tempat pernah pernik.
"Memang untuk pemasaran produk masih terbatas. Sehingga lebih banyak kita jual di pameran atau saat ada pemesanan," ungkapnya.
Namun diyakini masih tetap ada pembeli tertarik.
"Kalau saya bikin di rumah, setelah lihat-lihat ada saja yang beli," ungkap Ny Lis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/kader-lingkungan-malang_20151022_215059.jpg)