Minggu, 12 April 2026

Surabaya

Asyiknya Bocah-bocah Berebut Latihan Panjat Dinding di Kampus Unitomo

Ada yang mogok tidak mau memanjat setelah mengenakan perlengkapan memanjat. Tapi banyak juga di antara mereka yang semula takut, akhirnya memanjat

Penulis: Dyan Rekohadi | Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.CO/Dyan Rekohadi
Seorang bocah perempuan mendapat bantuan orangtuanya saat melakukan pemanjatan dan didampingi petugas panitia di acara Mapalas Fresh Sunday, di kampus Unitomo, Minggu (10/1/2015). 

SURYAMALANG.COM,  SURABAYA - Puluhan anak dan orangtua nampak bergerombol di sekitar papan panjat Mahasiswa Pecinta Alam dan Seni (Mapalas) di kampus Universitas Dr Soetomo, Minggu (10/1/2015).

Bocah-bocah itu asyik mencoba memanjat dinding papan panjat yang hari itu memang disiapkan bagi umum dalam kegiatan Mapalas Fresh Sunday.

Aktivitas fun climbing di kegiatan Mapalas Fresh Sunday itu menjadi semarak karena mayoritas anak-anak yang hadir di acara belum pernah memanjat dinding panjat sebelumnya.

Ada yang mogok tidak mau memanjat setelah mengenakan perlengkapan memanjat. Tapi banyak juga di antara mereka yang semula takut akhirnya ingin terus memanjat setelah mencoba.

Acara fun climbing di kegiatan Mapalas Fresh Sunday tidak berlangsung formal. Peserta memanjat terbuka bagi anak-anak mulai umur balita sampai belasan tahun. Para orangtua juga diizinkan memberi semangat dari dekat bahkan membantu anaknya memanjat.

Tidak ada pemberian hadiah khusus berdasarkan peringkat keberhasilan memanjat. Untuk menarik minat anak-anak, Panitia cukup menempelkan hadiah berupa beragam makanan ringan di dinding panjat yang bisa diambil saat anak-anak memanjat.

Meskipun tidak berlangsung formal, tapi anak-anak peserta fun climbing dari awal sudah dikenalkan prosedur memanjat yang benar. Mereka lebih dulu diajak melakukan pemanasan. Mereka juga wajib mengenakan perangkat tali pengaman.

Bocah 8 tahun bernama Abel, yang mendapat urutan pertama misalnya, ia hanya diam dan tak mau memanjat setelah panitia memasangkan perlengkapan tali pengaman di tubuhnya. Meski diberi semangat oleh panitia, ayahnya -Koesmiyanto, dan para orangtua peserta lain, Abel bergeming tak mau memanjat.

Tapi sikap mogok Abel langsung berubah 360 derajat ketika peserta bocah perempuan diurutan berikutnya dipersilahkan memanjat. Melihat aksi bocah perempuan itu, Abelpun langsung kembali meminta untuk memanjat. Ia bahkan kembali meminta memanjat hingga berulang tiga kali.

"Dia (Abel) belum pernah memanjat sama sekali sebelumnya, jadi tadi bingung dan takut mau berbuat apa. Tapi sekarang dia jadi ketagihan, dia senang juga dapat banyak hadiah," ujar Koesmiyanto yang turut senang anaknya bisa menikmati olahraga panjat tebing.

Suasana jadi lebih meriah ketika para orangtua turut membantu anaknya memanjat. Para orangtua lain ikut bersorak saling gojlokan dan memberi semangat pada setiap anak yang memulai memanjat.

"Kegiatan ini memang ditujukan untuk mengenalkan olahraga panjat tebing pada anak-anak sejak dini. Kami memiliki fasilitas dan kemampuan, akan lebih baik kami manfaatkan untuk pengembangan olahraga ini," ujar Nurul A, Ketua Umum Mapalas, Minggu (10/1/2015).

Selain bisa mengoptimalkan fasilitas dan kemampuan memanjat para anggotanya, Mapalas juga bertujuan menjalin silaturahmi dengan masyarakat sekitar kampus dan keluarga para alumni melalui kegiatan ini.

"Semua kegiatan ini gratis, kami senang ternyata responnya bagus, banyak juga adik-adik yang baru pertama kali memanjat tapi kemampuannya sudah bagus, bisa mencapai 5-6 papan," tambah Nurul.

Menurut rencana kegiatan ini akan digelar secara rutin, setidaknya sebulan sekali, di mana di kegiatan berikutnya bisa mulai diterapkan dan ditanamkan sedikit latihan teknik memanjat.

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved