Sabtu, 11 April 2026

Blitar

Penderita Demam Berdarah Membludak, Terpaksa Dirawat di Lorong Rumah Sakit

"Kami nggak berani menolaknya, nanti malah jadi masalah. Akhirnya, mereka harus mengantre kamar, untuk menunggu pasien yang sembuh dan pulang...

Penulis: Imam Taufiq | Editor: musahadah
surya/imam taufiq
Karena jumlah pasien DB kian membludak, sehingga sebagian tak bisa dirawat di kamar RSUD Ngudi Waluyo, melainkan dirawat di lorong. 

SURYAMALANG.COM, BLITAR - Jumlah penderita demam berdarah (DB) di Kabupaten Blitar terus bertambah.

Hingga Kamis (4/2) siang ini, jumlah penderita DB sudah mencapai 244 orang. Akibatnya, RSUD Ngudi Waluyo, Wlingi,  tak bisa menampung, sehingga sebagian penderita harus dirawat di beberapa puskesmas.

Bahkan, tak semua penderita DB itu bisa dirawat di dalam kamar, melainkan di lorong-lorong RS milik Pemkab Blitar tersebut.

"Kami nggak berani menolaknya, nanti malah jadi masalah. Akhirnya, mereka harus mengantre kamar, untuk menunggu pasien yang sembuh dan pulang. Biasanya, mereka mengantre tak lama atau sekitar tiga hari," kata dr Endah Woro, Wadir Pelayanan RSUD Ngudi Waluyo, Kamis (4/2).

Ia tak menampik, bahwa ada beberapa pasien DB yang dirawat dilorong. Itu karena keterbatasan tempat tidur pasien, bukan kamarnya.

Namun, papar dia, sebenarnya kalau diterima terus, maka jumlah penderita DB yang minta dirawat di RS itu kian tak tertampung. Akhirnya pihaknya membatasi supaya mereka mendapat pelayanan medis baik..

"Semua puskemas maunya merujuk pasien DB ke sini. Namun, kami kasihan pada penderitanya, kalau semuanya kami tampung karena bednya tak mencukupi. Akhirnya, yang dirawat di sini sekarang berjumlah 28 penderita. Itu terdiri dari 6 anak-anak, 22 orang dewasa," paparnya.

Dari 28 pasien itu, beberapa rela dirawat di lorong. Di antaranya, Puji Rita (43), penderita DB asal Desa/Kecamatan Sanan Kulon.

Ia kena DB sudah seminggu ini dan sebelumnya dirawat di Puskesmas Sanan Kulon. Namun karena kondisinya kian memburuk sehingga ia dirujuk ke RS, sejak Senin (1/2) malam kemarin. 

Saat ini kondisinya belum banyak perubahan, bahkan pori-pori kulitnya masih terlihat banyak bintik-bintik kehitaman. Itu karena kondisi tubuhnya masih lemah bahkan masih sering pingsan.

"Ibu sering pingsan karena tubuhnya sangat panas dan kadang kedinginan. Padahal, di sini, ia sudah mendapat perawatan dengan baik," tutur anak laki-laki korban saat menunggui ibunya.

Selain Rita, pasien DB yang dirawat di lorong RS, adalah Astutik (28), warga Desa Resep Omboh, Kecamatan Doko. Ia baru dirawat Kamis siang itu, setelah dirujuk dari Puskemas Doko.

Kondisinya masih lemah karena masih sering demam. Bahkan, kalau kedinginan sampai menggigil.
"Sebetulnya, istri saya sakit itu sudah seminggu lalu. Namun, karena tak ada perubahan saat dirawat di puskemas, kami rujuk ke sini tadi pagi. Malah di sini tak dapat ruangan," tutur Sugeng (29), suami korban.

Meski banyak pasien DB yang dirawat di lorong, namun tak ada perlakuan beda dengan pasien yang dirawat di kamar. Mereka selalu dikontrol setiap satu jam sekali oleh perawat, dan tiga jam sekali oleh dokter.

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved