Malang Raya
Gadis Cantik Sehari-hari Bergelut dengan Museum Musik, Ternyata Ini yang Dilakukan
Ia paling berkesan ketika mendata partitur yang merupakan donasi dari sebuah sekolah musik di Surabaya.
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Dyan Rekohadi
SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Berawal dari pengerjaan skripsinya tentang museum Bentoel Malang pada 2013-2014, Faizzatus Sa'diyah (23) jadi tertarik pada dunia museum. Kini sehari-harinya ia menjadi relawan di Museum Musik Indonesia (MMI) Kota Malang.
"Sebelum mengerjakan skripsi tentang Museum Bentoel, saya sudah lama tidak pernah ke museum. Ketika ke museum lagi, saya seperti menemukan dunia lain. Benda-benda tidak sekedar benda mati. Namun ada pesan-pesan yang bisa dimaknai," tutur Faiz, panggilan akrab gadis alumnus Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya Malang ini.
Ia ditemui SURYAMALANG.COM, Kamis (16/3/2017) di MMI. Awal masuknya ke MMI ketika dalam proses pengerjakan skripsinya, ia mengenal MMI. Ia berkenalan dengan Pak Fauzi yang pernah jadi relawan di MMI.
Berikutnya sarjana antropologi ini bisa berkenalan dengan pemilik MMI, Pak Hengki dan bisa mengobrol banyak tentang pentingnya museum di masyarakat. Setelah itu ia diajak bergabung menjadi relawan hingga kini sejak Desember 2016.
Sehari-hari ia berada di museum sampai sore hari. Yang dilakukan beragam. Kadang membuat surat, membuat registrasi, merawat buku sumbangan dan diberi nomer serta dipajang. "Juga bikin-bikin caption untuk alat musik," kata dara asal Bululawang, Kabupaten Malang ini.
Selain itu juga memutar kaset dan CD koleksi MMI secara acak untuk perawatan. Ia tak menarget sehari harus memutar berapa CD atau kaset. Alasannya ia tipikal orang yang tidak ingin selalu rutin. " Kalau ingin memutar CD atau kaset ya sampai bosan sendiri," katanya.
Lagu-lagu yang kerap diputar terutama bernuansa jazz, swing atau orkestra. Sedang untuk lagu-lagu yang sudah didengarkan seperti album milik Chrisye, Slank dan Iwan Fals. Dari beberapa hal yang dilakukannya, ia paling berkesan ketika mendata partitur yang merupakan donasi dari sebuah sekolah musik di Surabaya.
Jumlah partiturnya banyak sekali. Datanya masih dicatat manual di buku tulis di sebuah rak di museum ini. "Ini partitur-partitur musik klasiknya," kata Faiz sambil menunjukkan koleksi buku itu. Untuk menjaga bukunya, pada bagian depannya biasanya dibersihkan dari debu.
Yang jelas, Faiz merasa beruntung selama jadi relawan MMI mendapat tambahan koneksi di bidang seni. Selain itu, Ilmu Antropologinya juga masih linier dengan bidang musium yang menjadi passionnya ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/faizzatus-sadiyah_20170317_000006.jpg)