Kota Malang

Pro-Kontra Etanol Jadi Campuran Bahan Bakar Minyak, Dosen UMM Beri Penjelasan Ilmiahnya

Secara teori, penggunaan etanol dalam proporsi tepat mampu menekan emisi karbon lebih signifikan.

UMM
Dosen Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ir Iis Siti Aisyah ST MT PhD. 

Ringkasan Berita:

SURYAMALANG.COM, MALANG - Wacana penggunaan etanol sebagai campuran bahan bakar minyak (BBM) untuk kendaraan kembali ramai diperbincangkan, seiring dorongan pemerintah menuju transisi energi dan pengurangan emisi karbon.

Di tengah pro-kontra tersebut, Dosen Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ir Iis Siti Aisyah ST MT PhD, memberikan penjelasan ilmiah mengenai peluang dan tantangan penggunaan etanol di Indonesia.

Iis menjelaskan, etanol termasuk jenis biofuel yang memiliki proses pembakaran lebih bersih dibandingkan bensin murni.

Secara teori, penggunaan etanol dalam proporsi tepat mampu menekan emisi karbon lebih signifikan.

"Etanol itu energi alternatif dari hasil olahan tanaman. Secara jangka pendek bagus untuk meningkatkan angka oktan."

"Tapi jika dipakai jangka panjang bisa memengaruhi komponen di ruang bakar seperti karet dan menyebabkan korosi pada logam yang tidak tahan air," jelasnya kepada SURYAMALANG.COM, Jumat (14/11/2025).

Baca juga: Proyek Tol Kota Malang-Kepanjen Tertunda Lagi, Kadis Bina Marga Bakal Koneksikan Tol dengan JLS

Meski ramah lingkungan, etanol membawa sejumlah tantangan teknis dan ekonomis.

Secara ilmiah, densitas energi etanol hanya 26,8 MJ/kg, jauh lebih rendah dari bensin yang mencapai 46 MJ/kg.

Dampaknya, campuran etanol dalam pertalite akan menurunkan nilai energi per liter dibandingkan Pertalite murni.

Di sisi lain, etanol memiliki octane number tinggi (100+), membuatnya lebih tahan terhadap knocking dan ideal untuk mesin modern berkompresi tinggi.

Namun, penggunaan etanol kurang direkomendasikan pada mesin lama berbasis karburator, karena berisiko memicu overheating jika tidak dilakukan penyetelan ulang.

Sifat etanol yang higroskopis juga menjadi tantangan tersendiri karena mudah menyerap air.

Proses pemurnian agar etanol bebas air membutuhkan teknologi mahal, sehingga memengaruhi harga jual.

Saat ini, harga etanol anhidrat masih sedikit di atas pertalite maupun pertamax sehingga perlu insentif agar kompetitif.

Meski begitu, Iis menegaskan bahwa mesin modern sebenarnya cukup aman menggunakan campuran etanol.

Sumber: SuryaMalang
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved