Kamis, 23 April 2026

Kota Malang

Dosen UMM Ingatkan Ancaman Kesehatan dan Pentingnya Pencegahan Dini di Tengah Cuaca Ekstrem 2026

Perubahan suhu yang tidak menentu, curah hujan tinggi, hingga peningkatan kelembapan dinilai dapat memicu berbagai gangguan kesehatan

SURYAMALANG.COM/ISTIMEWA
DOSEN UMM - Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ns. Zaqqi Ubaidillah, M.Kep., Sp.Kep.MB., mengingatkan ancaman rIsiko kesehatan dan pentingnya pencegahan dini di tengah cuaca ekstrem 2026 

Ringkasan Berita:
  • Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ns. Zaqqi Ubaidillah, M.Kep., Sp.Kep.MB., menegaskan bahwa cuaca ekstrem harus dipandang sebagai ancaman kesehatan populasi. 
  • Jika tubuh gagal beradaptasi secara optimal, maka risiko gangguan kesehatan akan meningkat
  • Sinergi antara keluarga, komunitas, fasilitas kesehatan, serta kebijakan yang responsif dinilai menjadi kunci menekan dampak kesehatan akibat cuaca ekstrem.

 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Prediksi cuaca ekstrem yang berpotensi terjadi pada awal 2026 menjadi peringatan serius, bukan hanya bagi sektor lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat. 

Perubahan suhu yang tidak menentu, curah hujan tinggi, hingga peningkatan kelembapan dinilai dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, terutama pada kelompok rentan.

Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ns. Zaqqi Ubaidillah, M.Kep., Sp.Kep.MB., menegaskan bahwa cuaca ekstrem harus dipandang sebagai ancaman kesehatan populasi. 

Menurutnya, kondisi lingkungan yang terus menekan kemampuan adaptasi tubuh dapat meningkatkan risiko penyakit apabila tidak diantisipasi sejak dini.

"Cuaca ekstrem bukan sekadar fenomena alam. Ini adalah stresor lingkungan yang berdampak langsung pada pemenuhan kebutuhan dasar kesehatan,"

"Jika tubuh gagal beradaptasi secara optimal, maka risiko gangguan kesehatan akan meningkat," kata Zaqqi, Rabu (7/1/2026).

Baca juga: BMKG Rilis Cuaca Ekstrem di Jatim 26 Desember 2025: Hujan Lebat hingga Sangat Lebat

 

Stres Fisiologis Kronik

Zaqqi menjelaskan, paparan cuaca ekstrem dalam jangka waktu tertentu dapat memicu stres fisiologis kronik.

Suhu dingin dan kelembapan tinggi berpotensi melemahkan pertahanan saluran pernapasan.

Sementara suhu panas ekstrem dapat menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan.

Ketika keseimbangan tubuh atau homeostasis terganggu dalam waktu lama, daya tahan tubuh akan menurun.

"Akibatnya, tubuh lebih mudah terserang infeksi dan mengalami kelelahan fisiologis," jelasnya.

Baca juga: Alokasi Anggaran untuk Drainase Terbatas, Pemkot Malang Atasi Banjir dengan Penegakan Perda

 

Kelompok Rentan

Zaqqi mengingatkan bahwa kelompok anak-anak, Lansia, ibu hamil, penderita penyakit kronis, serta pekerja lapangan memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi.

Kelompok ini membutuhkan perhatian ekstra melalui pengawasan kesehatan, pengaturan aktivitas, serta dukungan keluarga dan komunitas.

Tak hanya kesehatan fisik, aspek kesehatan mental juga menjadi perhatian. 

Sumber: SuryaMalang
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved