Selasa, 5 Mei 2026

Kota Malang

RSUB Malang Resmi Buka Infectious Disease Center, Didukung Uni Eropa

RSUB resmi meluncurkan Infectious Disease Center (IDC) sebagai pusat layanan terpadu penyakit infeksi, sekaligus penguatan riset

Tayang:
SURYAMALANG.COM/Mochammad Rifky Edgar Hidayatullah
RSUB - Rektor Universitas Brawijaya (UB) Malang Prof Widodo bersama Kedutaan Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Kementerian Kesehatan, dan Keduataan Besar Jerman untuk Indonesia saat meninjau langsung Infectious Disease Center (IDC) sebagai pusat layanan terpadu penyakit infeksi, sekaligus penguatan riset kesehatan publik di Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB) Kota Malang, Sabtu (10/1/2026). 
Ringkasan Berita:
  • RSUB resmi meluncurkan Infectious Disease Center (IDC) sebagai pusat layanan terpadu penyakit infeksi, sekaligus penguatan riset kesehatan publik
  • Peresmian IDC ini menjadi langkah strategis UB Malang dalam menjawab tantangan penyakit menular yang masih menjadi persoalan serius
  • Rektor UB Malang, Prof Widodo, menjelaskan bahwa pusat ini tidak hanya difokuskan pada pelayanan pasien, tetapi juga dikembangkan sebagai basis riset multidisipliner

SURYAMALANG.COM, MALANG - Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB) Kota Malang resmi meluncurkan Infectious Disease Center (IDC) sebagai pusat layanan terpadu penyakit infeksi, sekaligus penguatan riset kesehatan publik, Sabtu (10/1/2026).

Peresmian IDC ini menjadi langkah strategis UB Malang dalam menjawab tantangan penyakit menular yang masih menjadi persoalan serius, seperti Covid-19, tuberkulosis (TBC), hingga berbagai penyakit infeksi lainnya.

Rektor UB Malang, Prof Widodo, menjelaskan bahwa pusat ini tidak hanya difokuskan pada pelayanan pasien, tetapi juga dikembangkan sebagai basis riset multidisipliner.

"Infectious Disease Center ini menjadi tempat layanan khusus penyakit infeksi, mulai Covid-19, TBC, hingga penyakit infeksi lainnya."

"Namun yang tak kalah penting, kami mengembangkan riset terapi, vaksin, dan diagnostik," ujar Prof Widodo.

Menurutnya, IDC juga akan berperan aktif dalam riset surveilans penyakit infeksi di masyarakat, sehingga hasil kajian dapat dimanfaatkan untuk penguatan kebijakan kesehatan publik.

Baca juga: Prakiraan Cuaca Malang-Kota Batu Hari Ini Sabtu 10 Januari 2026: Hujan Merata Suhu Dingin Capai 17°C

"Kami berharap IDC ini menjadi tempat kajian kesehatan publik, khususnya infectious disease. Surveilans masyarakat sangat penting untuk deteksi dini dan pencegahan," tambahnya.

Keberadaan IDC RSUB juga mendapat dukungan internasional.

Prof Widodo mengungkapkan bahwa pengembangan fasilitas, termasuk renovasi dan peralatan medis, didukung melalui hibah dari Uni Eropa, dengan keterlibatan mitra dari Jerman serta sejumlah peneliti internasional.

Fasilitas terbaru RSUB mencakup layanan dan fasilitas inti, mulai layanan rawat jalan penyakit menular, layanan gawat darurat, fasilitas penitipan anak untuk transit kasus non-definitif, layanan rawat inap penyakit menular, hingga Laboratorium Tingkat Keamanan Hayati 2 (BSL-2).

"Ini merupakan kolaborasi internasional. Kami berterima kasih atas dukungan Uni Eropa yang sangat membantu dalam penguatan fasilitas dan riset," jelasnya.

Ia menambahkan, RS Universitas Brawijaya dipilih sebagai lokasi IDC karena didukung sumber daya manusia dan infrastruktur yang memadai, serta ekosistem akademik UB yang lengkap, mulai dari Fakultas Kedokteran, Kedokteran Hewan, Farmasi, Biologi, hingga Ilmu Kesehatan.

Sementara itu, Direktur RS Universitas Brawijaya, Dr dr Viera Wardhani MKes, menegaskan bahwa pada tahap awal IDC akan memprioritaskan penguatan pelayanan kesehatan.

"Fokus pertama adalah pelayanan dengan melengkapi prasarana dan alat kesehatan."

"Target pengadaan alat selesai pada Februari hingga Maret, setelah itu kami mulai implementasi layanan dan riset,” ungkapnya.

Dr Viera menyebutkan bahwa IDC akan dikembangkan sebagai center of excellency dengan dukungan pendanaan dari program revitalisasi Perguruan Tinggi Negeri.

Salah satu langkah strategis yang tengah disiapkan adalah pembangunan database penyakit infeksi, yang tidak hanya mencakup pasien RSUB, tetapi juga terintegrasi dengan sistem pelayanan kesehatan di Malang Raya hingga Jawa Timur.

"Kami tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi dengan seluruh sistem pelayanan kesehatan menjadi kunci, agar IDC ini menjadi bagian dari sistem layanan penyakit infeksi di Malang Raya dan Jawa Timur," tandasnya.

Sumber: SuryaMalang
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved