Kota Malang
Kota Malang Butuh Pasar Khusus Produk UMKM
Pelaku UMKM asal Kelurahan Karangbesuki, Sukun, Susy Kurnia, mengusulkan agar Pemkot Malang membangun satu pasar khusus yang menjual produk UMKM
Penulis: Benni Indo | Editor: Dyan Rekohadi
Ringkasan Berita:
- Pelaku UMKM asal Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun, Susy Kurnia, mengusulkan agar Pemerintah Kota Malang membangun satu pasar khusus yang menjual produk UMKM.
- Pemerintah Kota Malang diharapkan bisa menghadirkan satu pasar UMKM di lokasi strategis dan mudah dijangkau, agar produk-produk lokal bisa dikenal lebih luas
- Sementara Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang mengandalkan langkah pendampingan untuk mengangkat pelaku atau produk UMKM
SURYAMALANG.COM, MALANG – Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kota Malang menyuarakan kebutuhan pasar khusus yang menjual produk UMKM sebagai sarana pemasaran produk mereka.
Pelaku UMKM asal Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun, Susy Kurnia, mengusulkan agar Pemerintah Kota Malang membangun satu pasar khusus yang menjual produk UMKM.
Menurutnya, persoalan utama pelaku UMKM saat ini bukan hanya produksi, tetapi juga pemasaran.
Ia berharap Pemerintah Kota Malang bisa menghadirkan satu pasar UMKM di lokasi strategis dan mudah dijangkau, agar produk-produk lokal bisa dikenal lebih luas dan benar-benar berdampak pada peningkatan pendapatan pelaku usaha kecil.
Baca juga: Bulog Bangun 30 RPK di Malang, Pelaku UMKM Dapat Bantuan Modal hingga Akses Pasar
Kendala Pelaku Usaha Kecil
Susy menilai banyak pelaku UMKM kesulitan memasarkan produknya meski produk yang dimiliki berkualitas.
“Sekarang banyak yang bisa produksi, tapi tidak bisa jual. Saya sendiri bikin kerajinan, jual sendiri itu tidak cepat kalau tidak dibantu pemasarannya,” kata Susy, Senin (19/1/2026).
Ia menuturkan, pernah mencoba memasarkan produk lewat media sosial dengan akun besar di Kota Malang, namun harus membayar.
Sementara banyak pelaku UMKM kecil tidak punya modal cukup untuk promosi.
“Kan ada MCC, tapi harus lewat kurasi. Ada juga match making dengan hotel atau toko oleh-oleh, tapi orangnya itu-itu saja. Yang kecil-kecil susah masuk,” ujarnya.
Baca juga: Trans Jatim Malang Raya Tak Sekadar Transportasi, Pelaku UMKM Usul Halte Jadi Pusat Oleh-oleh
Merindukan Malang Expo
Susy lalu membandingkan dengan Jakarta yang memiliki Pekan Raya Jakarta (PRJ) dan pasar kreativitas yang menampung banyak UMKM.
Ia juga mengingat masa ketika Malang punya Malang Expo yang menampilkan beragam produk.
“Sekarang di Kayutangan isinya kafe. Kenapa tidak ada satu pasar yang khusus UMKM? Satu pasar UMKM yang mudah diakses,” tegasnya.
Menurutnya, banyak produk UMKM yang sudah masuk hotel atau toko oleh-oleh, tetapi justru tidak mudah diakses masyarakat luas.
“Bagaimana menjembatani pelaku usaha kecil supaya bisa menjangkau pasar?” ujarnya.
Ia mengapresiasi keberadaan Galeri UMKM di Kecamatan Sukun yang sudah memfasilitasi pelaku usaha.
Namun, lokasi galeri dinilai kurang strategis untuk wisatawan.
“Target market-nya siapa? Orang yang datang ke kantor kecamatan saja. Wisatawan tidak mungkin ke sana,” kata Susy.
Diskopindag Kota Malang Pilih Langkah Pendampingan
Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang mengandalkan langkah pendampingan untuk mengangkat pelaku atau produk UMKM
Kepala Dinas Kopindag Kota Malang, Eko Sri Yuliadi mengatakan strategi percepatan pemenuhan target UMKM naik kelas adalah pendampingan.
Strategi yang ia sebut sudah dilakukan di tahun-tahun sebelumnya.
Langkah pendampingan oleh tim pendamping cakupannya akan diperluas hingga menyentuh 50 sampai 100 UMKM.
Selain itu, tim pendamping juga diminta lebih detail dalam memberikan materi pelatihan, seperti mengenai pengemasan produk dan pemasaran.
Penguatan ini dilakukan karena pada 2025 jumlah UMKM yang naik kelas tidak memenuhi target.
UMKM dikatakan naik kelas ketika tercatat mengalami peningkatan, seperti dari segi omzet, kelengkapan legalitas usaha, serta kualitas produk.
Baca juga: UMKM Kota Malang Naik Kelas, Ekspor Produk Perdana ke Selandia Baru
Untuk diketahui, Diskopindag mencanangkan target 10 persen pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) bisa naik kelas pada periode 2026.
Kepala Dinas Kopindag Kota Malang, Eko Sri Yuliadi mengatakan, jumlah UMKM di Kota Malang sebanyak 40 ribu.
"Pada 2026 kami mengupayakan supaya 10 persen atau sebanyak empat ribu UMKM naik kelas," katanya.
Langkah pendampingan juga ditujukan agar produk UMKM dari Kota Malang bisa menembus pasar ekspor.
Eko mengatakan, pada 2025, ada 95 UMKM yang produknya mampu menembus pasar global.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/PASAR-kLOJEN-KOTA-mALANG-umkm.jpg)