Kamis, 23 April 2026

Kota Malang

Tahun Kuda Api 2026, Kelenteng Eng An Kiong Kota Malang Ajak Pemimpin dan Warga Jaga Harmoni

Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 di Kelenteng Eng An Kiong Kota Malang berlangsung khidmat, Selasa (17/2/2026).

Penulis: Benni Indo | Editor: Frida Anjani
SURYAMALANG.COM/PURWANTO
IMLEK - Umat Tionghoa melakukan sembahyang saat Tahun Baru Imlek 2026 di Klenteng Eng An Kiong Kota Malang, Jawa Timur, Selasa (17/2/2026). Tahun Baru Imlek 2026 atau 2577 Kongzili di Klenteng Eng An Kiong Kota Malang tidak hanya menjadi pusat ibadah umat Tri Dharma (Tao, Buddha, dan Konghucu), tetapi juga dikenal sebagai ruang terbuka bagi masyarakat lintas keyakinan. 
Ringkasan Berita:
  • Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 di Kelenteng Eng An Kiong Kota Malang berlangsung khidmat, Selasa (17/2/2026). 
  • Ratusan umat Tridharma dan simpatisan mengikuti sembahyang bersama memasuki Tahun Kuda Api, yang diyakini membawa simbol kekuatan, kerja keras, dan dinamika perubahan.

 

SURYAMALANG.COM, MALANG — Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 di Kelenteng Eng An Kiong Kota Malang berlangsung khidmat pada Selasa (17/2/2026). Sekitar seratus umat dan simpatisan mengikuti sembahyang bersama memasuki Tahun Kuda Api atau Bing Wu, yang diyakini membawa simbol kekuatan, kerja keras, dan dinamika perubahan.

Humas Kelenteng Eng An Kiong, David Kurniawan, mengatakan bahwa Tahun Kuda Api tahun ini mengandung pesan penting terutama bagi para pemimpin di tingkat daerah maupun nasional.

“Kami berharap para pemimpin lebih terbuka mata dan hatinya, lebih mendengar rakyat, dan bekerja sekeras tenaga seperti kekuatan kuda, tapi bukan kuda yang liar,” ujarnya, Selasa (17/2/2026).

Dalam tradisi Tionghoa, tahun ini memiliki unsur api ganda, yakni Bing dan Wu, yang menurut David perlu dimaknai dengan kehati-hatian.

“Bing itu api besar, Wu juga elemen api. Artinya tahun ini energinya sangat aktif. Kita harus menjaga emosi dan tutur bicara agar tidak mudah tersulut,” jelasnya.

Ia mengingatkan bahwa beberapa peristiwa sejarah terjadi pada tahun dengan siklus elemen serupa, misalnya tahun 1966 yang secara astrologi disebut sebagai Kho Ping Hoo ketika banyak gejolak sosial terjadi di Indonesia dan Tiongkok.

David menjelaskan, pada 1966 terjadi revolusi budaya di Tiongkok, sedangkan di Indonesia terjadi peristiwa lanjutkan Gestok, yakni perburuan terhadap anggota PKI.

Di tahun itu juga Presiden Sukarno mengakhiri jabatannya. 

“Kami berharap di tahun 2026 ini Indonesia tetap aman, tidak terjadi fenomena yang kurang baik. Karena perubahan besar yang tidak terduga itu bisa membawa efek luas,” tambahnya.

David menjelaskan bahwa sembahyang hari pertama Tahun Baru Imlek memiliki makna sakral khusus bagi umat Tridharma.

Ibadah dimulai dengan sembahyang kepada Thian Kong atau Tuhan Yang Maha Esa, dilanjutkan penghormatan kepada Dewa Penjaga Kelenteng hingga Buddha Mile yang bertepatan dengan hari ulang tahunnya.

“Hari pertama dalam penanggalan Imlek itu seperti Salat Id bagi saudara Muslim. Kita menyalakan dupa pertama dengan penuh harapan, berkumpul, berdoa bersama untuk kebaikan tahun yang baru,” katanya.

Harapan untuk Indonesia dan Kota Malang

Dalam momentum pergantian tahun ini, umat Tridharma di Kelenteng Eng An Kiong juga menyampaikan doa untuk keamanan dan kesejahteraan bangsa.

“Kami berharap Indonesia selalu jaya, Kota Malang aman dan tenteram, supaya masyarakat mudah mencari rezeki. Kalau negara kuat dan stabil, rakyat pasti ikut merasakan manfaatnya,” tutur David.

Ia menegaskan bahwa doa bagi keselamatan negara selalu menjadi bagian penting dari sembahyang di kelenteng.

“Kami selalu berdoa agar negara terhindar dari hal-hal buruk. Itu harapan rakyat Indonesia, bukan hanya umat Tridharma,” imbuhnya.

Perayaan Tahun Baru Imlek di Kelenteng Eng An Kiong dijadwalkan berlangsung hingga beberapa hari ke depan, dengan rangkaian sembahyang lanjutan dan kegiatan kebudayaan.

Laily Lin, warga DKI Jakarta yang mengikuti Imlek di Klenteng Eng An Kiong mengaku takjub dengan kemeriahan yang ada. Lon yang juga mahasiswa tersebut baru pertama kali mengikuti kegiatan Imlek di Klenteng Eng An Kiong.

Ia senang melihat corak bangunan yang menurutnya sangat tradisional. Paduan warna merah yang mendominasi semakin menyemarakan klenteng.

"Saya tadi juga melihat ada patung di pojokan yang saya kira itu bercorak Budha," terangnya.

Lin sendiri adalah umat Muslim, namun memiliki garis keturunan Tionghoa. Dalam suasana kebahagiaan itu, Lin menilai Imlek selalu menjadi momentum merekatkan nilai-nilai kemanusiaan tanpa melihat latar belakang agama.

"Kami selalu berkumpul dan berbahagia bersama," katanya.

Mariana, umat Muslim asal Sawojajar mengaku sengaja datang ke Klenteng Eng An Kiong untuk melihat suasana Imlek. Ia datang bersama rekannya.

"Ingin tahu saja sih, jadi tadi melihat lihat di dalam klenteng. Suasananya meriah, banyak yang sembahyang," kata Mariana. 

Ia juga mengaku merasakan nilai toleransi yang kuat di dalam Klenteng Eng An Kiong. Sebab, para tamu umum juga dipersilahkan masuk untuk sekedar melihat ataupun berkunjung. 

"Toleransinya ada, kami dipersilahkan masuk dan diterima dengan baik meski kami berhijab. Malah kami berdua ngobrol enak sama umat Tionghoa," ungkapnya. 

Ia berharap semua umat dapat hidup rukun berdampingan dimanapun berada. Baginya, toleransi adalah ajaran yang kuat untuk mempersatukan bangsa. 

Ikuti saluran SURYAMALANG di >>>>> WhatsApp 

Sumber: SuryaMalang
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved