Jendela Dunia
Peneliti Ungkap Dosis Radiasi Dari Peristiwa Bom Atom Hiroshima 1945, Hasilnya Mengejutkan
Peristiwa bom atom yang menimpa Hiroshima, Jepang, adalah kejahatan kemanusiaan yang besar. Efeknya bahkan masih terasa hingga saat ini.
Penulis: Pambayun Purbandini | Editor: Pambayun Purbandini
SURYAMALANG.com - Tentunya kita masih ingat dengan peristiwa menakutkan yang pernah dialami oleh Hiroshima, Jepang, pada tahun 1945.
Ya, peristiwa dijatuhkannya bom atom yang melumpuhkan seluruh kota, dan menimbulkan banyak sekali korban jiwa dari masyarakat sipil.
Tak hanya itu, efek radiasi dari bom atom tersebut juga masih membahayakan selama puluhan tahun setelah bom atom itu dijatuhkan.
Namun, seberapa banyak dosis radiasi dari bom atom itu hingga menimbulkan banyak korban jiwa dan berbagai efek buruk lainnya?
Kali ini, untuk pertama kalinya, para ilmuwan telah menghitung berapa banyak radiasi orang Hiroshima mungkin menjadi sasaran setelah pemboman 1945 menggunakan jaringan tubuh dari salah satu korban.
Penelitian ini memberikan pandangan baru mengenai dampak kejatuhan nuklir setelah bom dijatuhkan.
Dimana pada kasus ini, ribuan orang tewas dalam ledakan awal.
Dan ribuan orang lainnya mengalami berbagai penyakit akibat radiasi pada bulan-bulan berikutnya.

Dilansir Suryamalang.com dari dailymail.co.uk, penelitian ini menggunakan teknik yang dirancang untuk penanggalan fosil dan artefak arkeologi.
Para peneliti telah menganalisis sebuah fragmen tulang rahang dari korban bom atom Hiroshima dan mengungkap tingkat radiasi hampir dua kali lipat dari dosis fatal.

Pengukuran menunjukkan dosis sekitar 9,46 grays (Gy) di tulang rahang korban Hiroshima - menurut tim ini adalah dosis yang tinggi.
Padahal apabila seorang manusia terpapar setengah dari dosis itu (setengah dari dosis 9,46 Gy) bisa berakibat fatal.
"Sekitar setengah dari dosis itu, atau 5 Gy, berakibat fatal jika seluruh tubuh terpapar," kata Oswaldo Baffa, Profesor di Fakultas Filsafat, Sains dan Sastra Universitas Oxford, Ribeirao Preto (FFCLRP-USP), yang mengawasi penelitian, dilansir dari dailymail.co.uk.
Penelitian ini mengandalkan teknik yang dikenal sebagai spektroskopi resonansi elektron spin untuk mengukur secara retrospektif dosis radiasi korban Hiroshima yang terkena 73 tahun yang lalu.

Penelitian sebelumnya pernah dilakukan, yakni penelitian yang dimulai pada 1980-an di bawah kepemimpinan fisikawan Sérgio Mascarenhas, Profesor Penuh di Universitas São Paulo (USP).