Malang Raya

Juari Tewas Dikeroyok, Disabet Celurit, Dihantam Cangkul dan Tubuhnya Diseret Sepanjang 100 Meter

Juari warga Kabupaten Malang Tewas Dikeroyok, Disabet Celurit, Dihantam Cangkul dan Tubuhnya Diseret Sepanjang 100 Meter

Penulis: Mohammad Erwin | Editor: eko darmoko
SURYAMALANG.COM/Mohammad Erwin
Rumah juari di Kabupaten Malang, Minggu (25/11/2018). Juari tewas mengenaskan dikeroyok sejumlah orang. 

SURYAMALANG.COM, TUREN - Mimpi buruk sedang menyelimuti benak Farida (39) yang merupakan adik kandung dari Juari (41) pria yang dikeroyok hingga tewas oleh beberapa orang tak dikenal, Minggu dini hari (25/11/2018).

Bak diterjang badai, hati Farida luluh lantah mengetahui kakaknya tewas secara sadis dan disaksikan langsung oleh kedua matanya sendiri kala itu.

Meski mencoba tegar, mimik wajah sedih bercampur emosi yang begitu mendalam terpancar saat menceritakan peristiwa itu.

Baca: Pembunuhan di Turen, Malang – Saat Tidur, Juari Dikeroyok, dan Tubuhnya Diseret Sejauh 100 Meter

"Cacakku digepuki (dipukuli) koyok (seperti) tikus. Cacakku menungso.... (manusia) guduk (bukan) tikus," terang Farida berlinang air mata ketika ditemui di rumah kerabatnya di Desa Tumpukrenteng, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Minggu petang (25/11/2018).

Dengan sangat jelas, Farida melihat pukulan demi pukulan menghujam deras tubuh kakaknya.

Bahkan celurit, pentungan kayu hingga cangkul turut digunakan pelaku mengeksekusi Juari. Diketahui Juari pernah mendekam di Lapas Lowokwaru Kota Malang, selama 3,5 tahun.

"Aku nggak iso (bisa) nulung (menolong) cacakku. Gak onok seng metu (gak ada yang keluar),"  ungkap Farida seraya tak percaya ini semua bisa terjadi.

Kala itu Farida pun panik. Begitu juga istri Juari, Jamiatul Masamah (43). Mereka hanya bisa meratapi meski sempat berusaha mencari pertolongan.

Petaka tak terduga bermula sekitar pukul 01.00 WIB.

Diketahui, kakaknya dan istrinya baru saja pulang dari melihat pementasan kuda lumping di Wajak, Kabupaten Malang.

Juari pulang dalam keadaan mabuk. Bahkan, hingga berbusa dan muntah-muntah. Farida pun sempat panik.

Tiba-tiba dari arah luar rumah, sekelompok orang yang ditaksir berjumlah enam orang mendatangi rumahnya dengan suara ribut.

"Hei Juari metuo (keluarlah) aku onok (ada) urusan ambek awakmu," dengar Farida dari luar rumahnya.

Mendengar suara tersebut, Farida pun keluar pintu rumah dan berkata "Ngapain sih mas malam-malam ramai-ramai di kampung orang. Wis (sudah) samean (anda) pulang saja. Apalagi ini ada anak kecil. Maaf jika kakak saya ada salah," ucap Farida menjawab para pria tak dikenal tersebut.

Tak hiraukan peringatan Farida, enam orang tersebut justru merangsek masuk.

Halaman
12
Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved