Kabupaten Malang
Gerbang Pintu Bromo Rp 58 Miliar Harusnya Langsung 'Cetak' PAD, Ketua DPRD: Eman Tak Segera Dibuka
Proyek gerbang pintu Bromo, rest area Bromo Tengger Semeru (BTS) III hingga kini belum bisa dimanfaatkan.
Penulis: Imam Taufiq | Editor: Dyan Rekohadi
Ringkasan Berita:
- Proyek Senilai Rp 58 miliar , Rest Area Bromo Tengger Semeru (BTS) belum juga dioperasionalkan.
- Bumdes siap mengelola jika segera dioperasionalkan
SURYAMALANG.COM, MALANG - Proyek gerbang pintu Bromo, rest area Bromo Tengger Semeru (BTS) III hingga kini belum bisa dimanfaatkan.
Proyek senilai Rp 58 Miliar yang sudah selesai dibangun setahun lalu di Desa Wringin Anom, Kecamatan Poncokusumo itu belum 'berguna'.
"Ya, eman jika tak segera dibuka. Kami khawatir ada kerusakan, seperti jaringan listriknya dan bangunannya," ujar Darmadi S Sos, ketua DPRD Kabupaten Malang, Jumat (31/10/2025).
Menurutnya, proyek yang berdiri di lahan tanah bengkok seluas 2,5 hektare (Ha) itu cukup berpotensi buat datangkan uang.
Sebab,lokasi itu buat transit para wisatawan yang akan berlibur ke Gunung Bromo, dengam lewat Kota Malang.
"Mungkin, menunggu kesiapan dari Bumdes yang akan mengelolanya," tutur Sekretaris DPC PDIP itu.
Informasinya, proyek BTS III itu memang sudah setahun lebih dibiarkan begitu saja. Itu karena menunggu pembuatan palang parkir otomatis.
Sebab, nantinya semua mobil pribadi milik wisatawan harus diparkir di rest area itu, lalu berganti dengan menyewa Jeep milik warga, untuk menuju ke Bromo.
"Tinggal dibikinkan palang pintu, itu sudah bisa dioperasionalkan. Mungkin, anggaran buat bikin palang pintu otomatis, ya sekitar Rp 35 juta," ungkap Anshori, ketua paguyuban Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) di tiga desa, yang lahannya dipakai rest area BTS III, Jumat (31/10/2025).
Anshori mengatakan, jika semua stan di dalam area BTS III sudah dibuka, pasti BUmdes mampu mengelola.
Sebab, lanjut Anshori, jika tak segera dioperasionalkan, memang biaya perawatannya cukup besar. Seperti buat bayar listrik tiap bulan, itu berkisar antara Rp 13 juta sampai Rp 16 juta.
"Itu cuma bayar bebannya saja karena tak semua lampunya dinyalakan malam hari. Namun, bila tak dinyalakan tiap hari, ya khawatir jaringan listriknya juga bermasalah karena semua kabelnya ditanam di dalam tanah," ungkapnya.
Perlu diketahui, BTS III itu dibangun oleh Kementerian PUPR dari dana World Bank Rp 58 miliar.
Itu tak ubahnya seperti BTS I dan BTS II. Untuk BTS I, di Sruni Poin, Probolinggo, yang dibangun wisata jembatan kaca.
| Tabrak Truk Tangki Parkir di Jalan Randuagung Singosari Malang, Warga Lawang Meninggal Dunia |
|
|---|
| Fraksi NasDem Dukung Bongkar Penyelewengan Bibit Tebu Rp 23 Miliar di Kabupaten Malang |
|
|---|
| Nihil Kasus Antraks, DPKH Kabupaten Malang Imbau Peternak Tetap Waspada dan Jaga Kesehatan Ternak |
|
|---|
| 'Bancakan' Proyek Bibit Tebu Rp 23 Miliar di Kabupaten Malang, 3 Fraksi Kompak Bakal Bongkar Kasus |
|
|---|
| DPRD Gelar Evaluasi Dugaan Pelanggaran Surat Tugas Wabup Malang, Inspektorat Turun Tangan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/rest-area-BTS.jpg)