Malang Raya
Wiji Astutik Tak Pernah Kirim Uang ke Keluarganya Selama 10 Tahun
Wiji berangkat ke Hongkong karena kondisi ekonomi. Ia menikah dengan Supaat, sebagai peani. Supaat meninggal pada Juni 2014 karena kecelakaan.
SURYAMALANG.COM, BANTUR - H Muhammad Asmai, perangkat Desa Wonokerto, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, Jawa Timur mengatakan, dirinya sudah dihubungi kepolisian Hongkong terkait kematian Wiji Astutik (34).
Asmai mengaku, dirinya dihubungi pada Selasa (9/6/2015) pukul 16.30. Lewat sambungan telepon, kepolisian Hongkong menanyakan kebenaran identitas korban pembunuhan, Wiji.
( Baca Juga : Memilukan, Wiji, TKW Dibunuh dan Mayatnya Dibuang di Emper Toko di Hongkong )
Polisi menanyakan nama ini bener nggak? Nama lengkapnya apa? Saya jelaskan juga alamat lengkapnya," ujar Asmai ditemui SURYAMALANG.COM di kantor Desa Wonokerto, Rabu (10/6/2015).
Saat komunikasi telepon, Asmi juga menanyakan proses pemulangan jenazah Wiji.
"Katanya masih proses dan akan dikirim ke Indonesia. Saya lebih banyak ditanya soal identitas kependudukan Wiji. Jadi, soal biaya-biaya lain juga saya tanyakan. Tapi sepertinya akan ditanggung. Sebab jika dibebankan ke orangtua, mereka tidak sanggup. Kalau ditanggung sana (Hongkong) ya gak masalah," kata Asmai.
( Baca Juga : Rahayu, Anak TKW yang Dibunuh di Hongkong Tak Pernah Kenal Ibunya )
Asmi menuturkan, kepolisian Hongkong tidak dijelaskan secara detail kematian Wiji dalam perbincangan telpon itu. Ia mengaku mendapat telpon dari Hongkong saat berada di rumahnya.
Menurut Asmi, jenazah diperkirakan akan tiba dalam pekan ini.
Sementara terkait hubungan kerja antara korban Wiji dengan PPTKIS yang memberangkatnya, katanya sudah putus. Memang Wiji pernah berangkat ke Hongkong dengan PPTKIS di Kota Malang pada 2005.
Namun sejak berangkat tidak pernah pulang lagi sampai tahun 2015.
Kematian Wiji, ternyata sudah banyak mengetahui oleh warga Wonokerto. Mereka membaca berita dari media online dan facebook.
Tapi warga tidak berani menyampaikan langsung ke keluarga Wiji.
"Ternyata kemudian keluarga Wiji juga tahu. Akhirnya saya sampaikan juga kalau saya sudah mengetahuinya," terang Asmi.
Sulistyo, kakak Wiji menjelaskan, adiknya berangkat ke Hongkong tidak dengan bekal besar. Wiji mengandalkan pemotongan gaji ketika sudah bekerja di Hongkong. Wiji bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT).
Ayahnya Wiji, Supardi menambahkan, anaknya memang tidak pernah pulang selama 10 tahun. Selama itu, Wiji juga tidak pernah mengirim uang pada keluarganya.
Wiji berangkat ke Hongkong karena kondisi ekonomi. Ia menikah dengan Supaat, sebagai peani. Supaat meninggal pada Juni 2014 karena kecelakaan lalu lintas di Singosari.
Seperti diberitakan, Wiji Astutik ditemukan tewas dibunuh di Hongkong, Senin (8/6/2015). Jenazah korban ditemukan terbungkus kasur dan dibuang di semperan sebuah toko di Hongkong.
(Sylvianita Widyawati)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/wiji-tkw_20150610_163702.jpg)