Surabaya

Di Hadapan Jokowi, Soekarwo : Tinggal 1 Lokalisasi Belum Ditutup di Jatim

Gubernur Soekarwo melaporkan keberhasilan penutupan 46 lokalisasi di Jatim, termasuk Dolly salah satu lokalisasi terbesar di Asia Tenggara.

Penulis: Mujib Anwar | Editor: fatkhulalami
SURYA/Mujib Anwar
Presiden Jokowi usai membuka Munas ke IX MUI, Selasa (25/8/2015) di Gedung Negara Grahadi, Surabaya. 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Gubernur Soekarwo melaporkan keberhasilan penutupan 46 lokalisasi di Jatim, termasuk Dolly salah satu lokalisasi terbesar di Asia Tenggara, kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Itu dilakukan Pakde Karwo ketika dia menyampaikan sambutan pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) ke IX Majelis Ulama Indonesia (MUI), Selasa (25/8/2015), di Gedung Negara Grahdi.

Menurut Pakde Karwo, keberhasilan Pemprov Jatim memberantas prostitusi karena dirinya menggandeng MUI. Bersama MUI juga berhasil dibentuk Ikatan Dai Area Lokalisasi (IDEAL), untuk memberikan pencerahan kepada para mucikari dan pekerja seks komersial (PSK) sebelum lokalisasi ditutup.

"Dengan upaya itu, kita berhasil menghapus prostitusi di Jatim, Pak Presiden. Dulu di Jatim ini ada 47 lokalisasi dengan total WTS sebanyak 7712 orang. Sekarang tinggal satu lokalisasi saja yang belum ditutup," tegasnya.

Satu lokalisasi yang belum ditutup adalah lokalisasi Balung Cangkring di Mojokerto dengan jumlah PSK sebanyak 83 orang.

Dikatakan Pakde, pihaknya hapal jumlah lokalisasi dan PSK karena sebelum ditutup dilakukan pendataan by name by addres. Dengan cara itu, pemerintah bisa memantau pergerakan para mantan WTS maupun mucikari.

"Sebelum lokalisasi ditutup, mereka (PSK) diberi pelatihan dan diberi modal untuk usaha," terangnya.

Mendengar penjelasan Pakde Karwo itu, Presiden Jokowi beberapa kali terlihat tersenyum simpul. Tak hanya Jokowi, ratusan ulama yang hadir, termasuk Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj dan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir juga terlihat tersenyum.

Ditegaskan, apa yang dilakukan Pemprov Jatim bekerjasama dengan MUI tersebut merupakan wujud nyata dari wasathiyah seperti tema yang diangkat dalam Munas MUI ke-IX, yakni "Islam Wasathiyah untuk Indonesia dan Dunia yang Berkeadilan dan Beradab".

"Jadi program kemitraan kita (Pemprov) dengan MUI sangat kongkrit," imbuh Pakde.

Bahkan beberapa area lokalisasi yang kini sudah ditutup, tanahnya diwakafkan untuk kegiatan keagamaan. Di Kabupaten Blitar misalnya, tanah bekas lokalisasi diwakafkan ke ormas Nahdlatul Ulama (NU) untuk dibangun sebuah Masjid.

Ketika giliran memberikan sambutan pembukaan Munas IX MUI, Jokowi mengapresiasi apa yang disampaikan Gubernur Jatim Soekarwo.

Dengan berseloroh, Jokowi berucap, "Kalau ke Jawa Timur, saya paling senang. Setiap Pak Gubernur sambutan, semua menjadi ger-geran," tukasnya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved