Rabu, 15 April 2026

Malang Raya

Mahasiswa Universitas Brawijaya Jadi Penarik Ojek, Ini Ceritanya

Larangan membawa kendaraan pribadi bagi mahasiswa baru (maba) di Universitas Brawijaya (UB) menjadi target pasar ojek.

Penulis: sulvi sofiana | Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.COM/Hayu Yudha Prabowo
Mahasiswi Universitas Brawijaya (UB) Malang menawarkan jasa ojek pada mahasiswa baru (Manba) UB setelah menempuh ospek di Jalan Veteran, Kota Malang, Rabu (2/9/2015). 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN – Larangan membawa kendaraan pribadi bagi mahasiswa baru (maba) di Universitas Brawijaya (UB) menjadi target pasar ojek.

Sebanyak 6 mahasiswa tingkat akhir dari UB yang minim kesibukan dan satu kontrakan membuat official LINE ini ‘Kejo Abam’ (Ojek Maba). Berbeda dengan ojek lainnya, ojek bagi maba ini dilakukan dengan pemesanan di official LINE.

Kejo Abam ini ngadopsi konsep aplikasi ojek yang terkenal di berbagai kota.

"Official Kejo Abam mulai sering kami sosialisasikan melalui LINE, awal followernya hanay 200. Tetapi sekarang semakin banyak, hingga followernya mencapai 800 akun,” terang founder dan driver Kejo Abam, Aldi Zulfikar.

Pemesanan yang ditanganai satu admin dan 5 driver ini mulai dibuka sejak 15 Agustus, memanfaatkan peluang pencarian kos bagi maba.

Karena banyanya order, akhirnya mereka menambah 4 driver lagi. Untuk menjadi drivernya juga tidak sulit, hanya perlu memiliki motor standart, identitas mahasiswa yang jelas dan memiliki dua helm.

“Kami memanfaatkan share dan posting lewat official LINE, kalau twitter ada, tapi medsos twitter saat ini lebih sepi,” jelas mahasiswa semester 7 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) ini.

Sistem pemesanan Kejo Abam ini dilakukan melalui admin di official LINE, kemudian jika ada driver yang tersedia, maka akun konsumen akan langsung dihubungkan pada driver. Driver kemudian akan mengirimkan kode penjemputan untuk mengenali drivernya.

“Penetapan tarifnya kami sesuaikan dengan jarak tempuh, jika jarak dekat antara 0-1 kilometer dikenakan tarif Rp 5.000,untuk jarak 1-3 kilometer dikenakan tarif Rp 10.000, untuk jarak 3-5 kilometer dikenakan tarif Rp 15.000, dan untuk 5 kilometer ke atas dikenakan tarif Rp 3.000 perkilometer,” terangnya.

Sejak pembukaan sampai saat ini, mereka sudah menerma order lebih dari 250 penumpang. Tujuannya juga bervariasi muali dari menuju kosan, menjemput ke stasiun atau ke bandara dan lainnya. Pemesannya pun juga tidak selalu mahasiswa baru, bisa jadi siswa SMP, ibu rumah tangga hingga Kakakng Mbak yu Kota Malang.

“Permintaannya juga ada yang aneh-aneh, ada yang minta kejo food, antar pindahan kos dan lainnya. Kan aneh pindahan angkat lemari pakai motor, kami jadi seperti kurir,” candanya.

Sejauh ini omset yang didapatkan mereka mencapai hingga Rp 4 juta. Untk pembagian hasil dilakukan 85 persen untuk driver dan 15 persen untuk official Kejo Abam.

Namun, usaha mereka ini bukan tanpa halangan, saat ini mereka juga memiliki competitor sesama mahasiswa yang memakai jaringan LINE untuk mendapat pelanggan.

“Karena kami yang pertama, maka kami juga sudah memiliki pelanggan,” katanya.

Selain itu juga ada tukang ojek lain yang sering mengaku sebagai driver Kejo Abam, setelah mengaku-ngaku driver resmi Kejo Abam, mereka menetapkan tariff yang mahal.

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved