Malang Raya
Tampil Unik, Mahasiswa UM Unjuk Kebolehan di Pinggir Jalan
Tingkah polah mahaiswa cukup unik. Sesekali mereka terdiam seperti patung dan menyapa pengguna jalan yang melihat kearah mereka.
Penulis: sulvi sofiana | Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU – Puluhan mahasiswa dari Jurusan Seni Tari Universitas Negeri Malang (UM) tampil dengan gaya fungki dan berekspresi di pinggir jalan, tepatnya di pintu mausk UM menuju jalan Veteran, Kamis (10/9/2015).
Mereka memakai baju klasik gaya tahun 90-an. Dengan warna pakaian yang menyolok, potongan baju yang unik serta make up yang tak biasa.
Tingkah polah mahaiswa cukup unik. Sesekali mereka terdiam seperti patung dan menyapa pengguna jalan yang melihat kearah mereka. Mereka juga menari kontemporer dengan diselingi suara teriak mereka.
Ivana Inka Putri (18), coordinator street art gelombang pertama ini menjelaskan, kegiatan yang mereka lakukan ini sebagai ajang latihan mereka sebagai seniman.
“Kami juga ingin menemukan gaya kami sendiri,” terangnya.
Selain itu, dikatakan mahasiswa seni tari semester 3 ini, kostum mereka yang beraneka bentuk bertema tradisional funky pop.
Hal ini sekaligus sebagai entuk kritis sosial kepada masyarakat yang selalu terbawa tren tanpa tahu tujuannya.
“Ini kami simbolkan dengan tarian kami, dengan satu komando yang lain mengikuti. Tapi tidak ada tujuan apapun disana,” jelasnya.
Kegiatan ini dilakukan di sejumlah titik jalan UM, dengan berbagai kelompok tari yang merupakan mahasiswa seni tari angakatan tahun 2012 hingga 2014.
“Kami juga akan tampil bersama sampai magrib di panggung seni terbuka yang berada di dalam kampus,” kata gadis yang memilih membuat jambul yang dipadu rambut panjangnya yang terurai ini.
Sekitar 100 mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini melakukannya dengan sukarela dengan konsultasi dosen mereka.
“Kami eksplore sendiri gerakan kontemporer kami, baru dikonsultasikan dengan dosen. Selain itu juga pingin nyiptain rasa seni di jiwa kami serta menemukan jati diri dan seni kami sendiri.” Terangnya.
Dosen koreografi seni tari UM, Robby Hidayat (53) mengatakan, mahasiswa melakukan kegiatan ni dengan sukarela.
Dosen henya mengarahkan agar mereka menemukan konsep dan wawasan ada.
“Biarkan mereka menemukan tradisi dan kebiasaan sendiri, kalau mereka terpaku pada teori maka saat teori itu hilang maka mereka jga akan meupakannya begitu saja. Kehilangan jati diri juga,” paparnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/mahasiswa-um_20150910_210611.jpg)