Blitar
Demi Minta Hujan, Warga Blitar Saling Cambuk Sampai Berdarah-darah
Semakin banyak peserta yang terluka apalagi sampai berdarah, diyakininya kian memcepat turunnya hujan.
Penulis: Imam Taufiq | Editor: Aji Bramastra
Menurut Wakidi, ini bukan pertandingan kalah atau menang. Namun, ini adalah ritual. Karena itu, semakin banyak peserta yang terluka apalagi sampai berdarah, diyakininya kian memcepat turunnya hujan.
"Luka itu merupakan bentuk pengorbanan bagi warga, yang butuh air hujan. Karena itu, mereka rela mengorbankan darahnya keluar demi ingin mendapatkan air hujan. Dan, itu sudah kami lakukan sejak nenek moyang dulu," tuturnya.
Mungkin saja, papar Wakidi, Tuhan berbelas kasihan dan tak tega, mengetahui ada orang yang rela bersakit-sakitan, demi mendapatkan air hujan.
"Biasanya, hujan itu turun ketika ritual ini sudah berlangsung 14 hari. Itu biasanya diawali dengan hujan rintik-rintik. Kalau sudah ada hujan, ritual ini ya dihentikan," pungkasnya.
Di Kabupaten Blitar ini, ritual Tiban itu hanya ada di desa itu. Itu berlangsung sejaak nenek moyang dulu. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/ritual-tiban-blitar-cambuk_20150916_173355.jpg)