Rabu, 8 April 2026

Malang Raya

Bisnis Makanan Anda Ingin Bersih dan Sehat? Ini Panduannya

"Kalau mau mengemas memakai plastik, usahakan ada pembatasnya. Jangan kertas bekas koran, nanti nempel semua tintanya,"

Penulis: sulvi sofiana | Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.COM/Sulvi Sofiana
paling kanan Nurnaningsih Heya Ulfah yang menjelaskan pentingnya kemasan murah, sehat dan sehat, ditemani dua pembicara lain Septa Katmawanti dan Rina Rifqie Mariana dalam Penyuluhan Makanan Sehat Bagi PKL Kawasan Universitas Negeri Malang (UM) di gedung Sasana Budaya UM, Minggu (20/9/2015). 

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Pedagang Kaki Lima sering menjajakan makanan yang tidak sehat dengan berbagai bahan tambahan makanan yang membahayakan kesehatan.

Hal ini menjadikan penjual nasi lalapan dan cilok di jalan Jombang Kota Malang, Mistia Indahwati (29) mengikuti Penyuluhan Makanan Sehat Bagi PKL Kawasan Universitas Negeri Malang (UM) di gedung Sasana Budaya UM, Minggu (20/9/2015).

Mistia datang ke acara penyuluhan setelah mendengarkan penjelasan mahasiswa tentang pentingnya jajanan sehat yang datang kerumahnya.

"Saya sih yakin makanan saya bersih, tapi itu bukan jaminan makanan saya steril dan sehat. Makanya saya mau kesini biar tahu standartnya jajanan sehat itu," jelas wanita yang akrab dipanggil bu Priyo ini.

Iapun memastikan bahwa dagangannya sudah sesuai dengan standar makanan sehat dengan tidak menggunakan bahan berbahaya. Namun, untuk cilok, banyak masyarakat yang menganggapnya tidak sehat. Sehingga ia mempertanyakan hal ini dalam penyuluhan.

"Cilok itu sehat, apalagi saya pakai bahan yang aman, tanpa boraks. Kalau memang yang tidak sehat sausnya, saya harus pakai apa yang harganya sama. Karena malah banyak yang suka saus itu," paparnya.

Senada dengan Mistia yang mempertanyakan jajanan sehat. Eny (32), penjual jajanan basah di Sigura-gura mengaku ingin memperbaiki kualitas jajanannya.

"Jajanan saya sering dipesan kalau ada acara di UM. Saya yakin makanan saya sehat, karena saya beli di toko bahan makanan," terangnya.

Namun, ia menemukan hal yang baru dalam segi pengemasan. Dalam penyuluhan itu ia mengetahui bahwa makanan dalam keadaan panas tidak boleh dikemas dalam plastik.

"Untungnya selama ini untuk jajanan saya yang pakai plastik selalu dibungkus setelah dingin. Kalau dulu taunya biar tidak mengembun dalam kemasan. Tapi ternyata juga untuk keamanan pangan," tegasnya.

Penyuluhan ini menghadirkan 3 pemateri dari program studi Kesehatan Masyarakat. Diantaranya Rina Rifqie Mariana yang memaparkan keamanan pada usaha makanan.

Rina menjelaskan sebagian penelitiannya terhadap jajanan di Kota Malang yang tidak sehat seperti pemakaian boraks, pemakaian pewarna tekstil dalam makanan seperti Rhodamin B pada saus tomat kemasan plastik.

"Tahun 2013 saya meneliti ayam lalapan yang dijual PKL tidak aman dikonsumsi karena menggunakan minyak jelantah dan pengolahannya tidak higienis," jelasnya.

Iapun menyarankan agar pedagang teliti dalam pemilihan bahan baku, penyimpanannya, pengolahannya dan penyimpanan produknya.

"Selain penyalahgunaan bahan kimia, cemaran mikroba karena proses yang tidak higienis akan menjadikan makanan tidak aman dikonsumsi," ungkapnya.

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved