Blitar

Garang Saat Beraksi, Otak Perampok Ini Mengiba ke Hakim Saat Dihukum Delapan Tahun

"Apa nggak bisa diperingan lagi pak, hukuman itu," pinta Andut.

Garang Saat Beraksi, Otak Perampok Ini Mengiba ke Hakim Saat Dihukum Delapan Tahun
surya/imam taufiq
Lima perampok toko emas, sedang menjalani vonis di PN Blitar, Kamis (7/1). 

SURYAMALANG.COM, BLITAR - Lima perampok toko emas divonis 8 tahun penjara di sidang Pengadilan Negeri (PN) Blitar, Kamis (7/1/2016) siang.

Vonis itu sama dengan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Negeri Blitar Roro Hartini.

"Ndut (Andut, otak perampokan toko emas), gimana kamu sudah mendengar, vonis itu?. Kamu kok nggak segarang waktu beraksi dulu, dengan pegang pistol. Kali ini, kamu kok terus merunduk saja," tanya Rais Taroji SH, ketua majelis hakim usai membacakan vonis.

Andut hanya menjawab iya tanpa ekspresi. "Apa nggak bisa diperingan lagi pak, hukuman itu," pinta Andut.

Menanggapi permintaan Andut, Rais menjawab normarif. "Ah, gimana kau itu, tadi kan sudah diketuk palunya. Kalau kalian, nggak terima, silakan banding. Sana, koordinasi dulu dengan pengacara kamu," ujar Rais.

Akhirnya, kelima terdakwa itu bergantian berdiri dan berkoordinasi dengan pengacaranya, Septa Cintia SH.

Hasilnya, mereka menerima vonis tersebut.

Kelima terdakwa perampok toko emas itu adalah Andut Prasetyo (32), yang merupakan otak dan penyandang dananya, termasuk pemilik enam senpi. Kmudian  Gaguk Susanto (20), Nizar Ismail (20), Arif alias Gotang (20), Imam Samsuri (20), semuanya warga Desa Kiping, Kecamatan Gondang, Tulungagung.

Sebenarnya, komplotan perampok toko emas tak hanya lima orang. Ada tiga pelaku lain yang sudah divonis lebih dulu karena dianggap masih anak-anak, sehingga vonisnya dipercepat.

Mereka adalah Fe (15), Ri (17), dan An (17), ketiganya warga Desa Kipeng, Kecamatan Gondang, Tulungagung.

Fe dan An, masing-masing divonis 3 tahun lima bulan, sedang Ri divonis 4 tahun enam bulan.

Perampokan  terjadi pada siang bolong atau pada 12 Agustus 2015 lalu. Sebulan kemudian (pada 7 September lalu), mereka tertangkap di dua tempat. Yakni, di Tulungagung dan Semarang.

Penulis: Imam Taufiq
Editor: musahadah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved