Blitar
Kasihan, Siswi SMA Tewas Setelah Lihat Ibunya Dianiaya Keluarga Ayah Tiri
Melihat ibunya dianiaya, ia langsung menjerit histeris. Entah kenapa, ia langsung ambruk dan pingsan di teras rumahnya.
Penulis: Imam Taufiq | Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.COM, BLITAR - Konflik antara ibu kandungnya dan keluarga bapak tirinya, membuat Nadia Vioni (16), pelajar kelas 1 SMEA Pemuda, Kecamatan Kesamben, Blitar jadi korbannya.
Nyawa gadis tak berdosa itu akhirnya tak berhasil diselamatkan, sesaat setelah pingsan akibat melihat ibunya diduga dianiaya oleh keluarga bapak tirinya tersebut.
Korban yang asal Lingkungan Nangkan, Kelurahan/Kecamatan Wlingi ini menghembuskan nafas terakhir saat dalam perjalanan ke RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, Sabtu (20/2) malam atau sekitar 22.30 WIB.
"Kami masih menyelidikinya, penyebab kematian korban itu. Apakah karena kaget sampai akhirnya pingsan saat melihat ibunya dianiaya orang itu atau ada penyebab lain. Yang jelas, ia sempat pingsan, sebelum akhirnya meninggaal dunia" kata AKP Sudarto, Kapolsek Selorejo, Minggu (21/2/2016).
Untuk memastikan penyebab kematian korban, petugas membawa mayat korban ke RSUD Syaiful Anwar, Kota Malang, untuk dilakukan otopsi.
"Dini hari kemarin, mayat korban langsung dibawa ke rumah sakit di Malang. Itu atas permintaan keluarganya, karena curiga atas kematian korban," tuturnya.
Menurut Sudarto, kejadian itu berawal dari ibu korban, Ny Nanik Setyowati (45), kedatangan empat tamu, Sabtu (20/2) malam atau sekitar pukul 20.00 WIB. Mereka bertamu ke rumah Nanik,di Dusun Kalilegi, Desa Banjarsari, Kecamatan Selorejo, yang baru setahun ditempati. Keempat tamunya itu tak lain adalah keluarga suaminya, Wagianto (60). Nanik sendiri baru setahun menikah dengan Wagianto. Sebab, Wagianto masih punya istri sah.
Namun, ia menikah siri dengan Nanik.
"Itu pengakuan Wagianto sendiri, kalau ia masih punya istri, namun diam-diam menikah lagi (nikah siri) dengan korban," tuturnya.
Malam itu, keluarga Wagianto, mendatangi rumah Nanik. Mereka terdiri dari Kuswati (50), istri Wagianto, dan dua anak kandungnya, Suwandi (38), dan Dwi Astutik (24), serta satu lagi menantunya, Fandi Sugianto (31). Mereka tinggal di Desa Kendalrejo, Kecamatan Talun atau berjarak sekitar 19 km dari rumah Nanik. Bahkan, saat keluarganya datang, Wagianto sedang berada di rumah Nanik.
"Awalnya, mereka sempat ngobrol baik-baik. Namun sekitar 30 menit kemudian, terlibat cekcok mulut, bahkan sampai terjadi ribut-ribut ke luar rumah," tutur Sudarto.
Karena suara keributan itu cukup keras, sehingga tetangganya mendengarnya. Meski masih jarang rumah di kampung itu, namun ada saja tetangganya, yang keluar rumah. Seperti Tumiran (50), yang rumahnya di depan rumah Nanik.
Namun, ia mengaku tak melihat jelas, apa yang terjadi karena listrik lagi padam sehabis hujan deras. Yang terdengar, hanya suara keributan, bercampur suara Nanik, yang menangis dan menjerit kesakitan. Sepertinya, ia dipukul karena terdengar suara brak brok, berkali-kali.
"Bersamaan suara brak brok, berkali-kali itu, terdengar suara Nanik, menjerit kesakitan," tutur Tumiran.
Akhirnya, Tumiran mendekat dan melihat Nanik mengerang kesakitan di rerimbunan tanaman tebu, yang ada di depan rumahnya. Di dekatnya, tampak empat orang, namun Tumiran mengaku tak mengenalnya. Sementara, di saat Nanik dianiaya itu, Wagianto juga tak tinggal diam. Ia berusaha melerainya namun malah jadi sasaran kemarahan anaknya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/korban-blitar_20160221_175504.jpg)