Sabtu, 11 April 2026

Pejuang Pendidikan

Dimas-Lisa Sulap Kandang Ayam jadi Kelas Kursus Bahasa Inggris Gratis

Dimas pun sempat mendatangi Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu untuk menawarkan kursus gratis bagi tour guide yang sebagian besar tak bisa berbahasa...

Penulis: Benni Indo | Editor: musahadah
surya/benni indo
Belajar - Suasan belajar bersama di Ngelmu Pring, Kota Batu. Di tempat yang merupakan bekas kandang ayam ini, anak-anak sekitar belajar banyak hal tanpa dipungut biaya. 

SURYAMALANG.COM, BATU - Awal 2013 adalah momen lahirnya Ngelmu Pring, kelas belajar yang didirikan Lisa Tunggul Puji Lestari (27) dan suami, Dimas Iqbal Romadhon (28), serta teman-teman, di bekas kandang ayam di Jalan Raya Patimura 3, Temas, Kec. Batu, Kota Batu.

Sejak berdiri hingga kini, ada sekitar 150 anak yang belajar di Ngelmu Pring. Mereka belajar setiap Sabtu dan Minggu.

Kelas ini berawal dari komunitas bernama Karyaleka Basa yang punya program english day, di mana seluruh anggota wajib berbahasa Inggris. Menurut Lisa, komunitas ini butuh tempat.

Akhirnya, sebuah lahan sempit bekas kandang ayam milik orangtua Lisa, pun disulap menjadi ruang kelas untuk belajar. “Ada tebing setinggi 20 meter di sebelahnya,” kata Dimas sembari menunjuk ke lahan di sebelahnya.

Saat dibongkar, masih ada beberapa ekor ayam di kandang dekat sungai dan rumpun bambu.

Ngelmu Pring didirikan untuk menampung anak-anak muda Kota Batu yang ingin belajar bahasa Inggris.

Menurut Dimas, kota wisata ini perlu ditunjang adanya warga yang bisa berbahasa asing.

Dimas pun sempat mendatangi Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu untuk menawarkan kursus gratis bagi tour guide yang sebagian besar tak bisa berbahasa Inggris.

Namun, usulan itu ditolak, meski gratis. Pihak dinas menyatakan karena pariwisata masih bersifat proyek, maka belum bisa menerima pendidikan atau kursus yang gratis. “Ya sudah,” ujarnya.

Alhasil, yang datang ke Ngelmu Pring adalah anak-anak. Maka, sejak itu kelas ini menampung anak-anak untuk belajar bersama. Dengan cara promosi ke sekolah dan dari pintu ke pintu, Lisa dibantu temannya yang lain mencari murid.

Para peserta didik yang belajar di Ngelmu Pring tidak sekadar belajar bahasa. Mereka juga belajar budaya. Dimas berharap, meskipun belajar bahasa asing, tapi anak-anak tetap menjaga kearifan kebudayaan lokal.

Anak-anak juga belajar ilmu pengetahuan seperti daur ulang sampah, bercocok tanam, dan kerajinan tangan.

Dengan cara seperti itu, diharapkan ada keterampilan yang dimiliki peserta didik saat mereka beranjak dewasa.

Hasil bercocok tanam ada yang dijual dan dikonsumsi sendiri. Sebagian uang digunakan untuk keperluan Ngelmu Pring.

Lisa dan Dimas juga terkadang mengeluarkan uang pribadi untuk keperluan Ngelmu Pring. “Kami juga bisa membuat telur asin dan ada kolam lele juga di sini,” ujar Lisa.

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved