Malang Raya
Lukis Kaca Sejak 2007, Seniman Wanita ini Dapat Pelanggan dari New Zealand
“Sempat tidak tersalurkan cukup lama untuk tidak melukis. Akhirya, sejak 2007 itu, saya mulai aktif dan mengembangkan bakat seni saya,”
Penulis: Sany Eka Putri | Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Menjadi seorang seniman memang sebuah pilihan. Tak terkecuali seperti yang dirasakan dan dialami oleh Tatik Simanjuntak (49).
Wanita keturunan Medan ini, terlihat sedang asik menggarap satu kerajinan kesenian saat didatangi SURYAMALANG.COM, Minggu (5/6/2016). Yakni, melukis dengan media kaca. Cat, kuas, serbet, dan media seperti kaca, tertata rapi di atas mejanya.
Perlahan, dengan tangannya yang cekatan, ia melukis di atas media kaca. Pemilihan warna yang ia pilih juga sesuai apa yang akan ia lukis.
Di tokonya, Sriwijaya Art, yang ada di Tarekot (Taman Rekreasi Kota) Malang, penuh dengan hasil karyanya. Ada yang berukuran kecil sekitar 5cm x 10 cm, hingga berukuran besar yakni 90cm x 90cm.
Jenis lukisan yang ia lukis ini juga sangat khas, yakni lukisan tentang karakter jawa. Seperti wayang, sultan. Perpaduan warna lukisannya pun didominasi warna cokelat. Ada warna merah, biru, hijau, tetapi itu hanya pelengkap saja.
Tatik mulai mengembangkan bakatnya sejak tahun 2007. Ia menyukai kesenian melukis sejak ia masih kecil. Bahkan, ia sempat mengalami perdebatan dengan sang Ayah lantaran ia tidak diperbolehkan untuk mengambil jurusan seni rupa saat kuliah.
Mau tidak mau ia harus menuruti permintaan ayahnya, dan mengambil jurusan Hukum, di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
“Sempat tidak tersalurkan cukup lama untuk tidak melukis. Akhirya, sejak 2007 itu, saya mulai aktif dan mengembangkan bakat seni saya,” ucapnya sembari menaruh kuas dan menunda sejenak melukisnya.
Awal ia melukis ia menggunakan media botol kaca. Namun ia tertarik untuk melukis di atas media kaca. Lukisan yang ia buat di atas media kaca ini tampak timbul.
Ia menggunakan teknik baru untuk melukis. Sebenarnya ada teknik Cirebon untuk melukis di atas kaca, namun, Tatik memilih untuk memberikan lukisan itu tampak hidup dengan memberikan kesan hasil lukisan tampak timbul.
Pelanggannya tak hanya dari Indonesia saja, tetapi juga dari luar negeri, yakni dari New Zealand. Yang membuat menarik ialah, Tatik sangat suka sekali dengan budaya lokal. Contoh cerita yang ada pada lukisan kaca miliknya yang terpajang ialah, lukisan dengan judul ‘Keselarasan’.
Dalam lukisan ini ada sosok Sri Sultan Hamengkubuwono X yang dikelilingi oleh gambar wayang petruk, dan bareng.
“Lukisan ini menunjukkan tentang keselarasan seorang raja yang harus selaras dengan rakyat dan seluruh isi istana,” tutur Tatik.
Karya Tatik ia jual dengan harga sesuai kesulitan membuat dan juga dari pemilihan gambar yang akan dipilih. Sekitar Rp 50 ribu hingga Rp 7 juta. Sudah ada sekitar 100 lebih karya yang Tatik buat. Sehari-hari, Tatik juga sebagai seorang guru ketrampilan di MI Sunan Kalijaga Pisang Candi.