Malang Raya

Mahasiswa UB Malang Buat Aplikasi Edukasi Belajar Bahasa Isyarat Indonesia

Bambang Cahyo Soetrisno, mahasiswa FILKOM UB Malang membuat aplikasi edukasi Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo)

SURYAMALANG.COM/IST
Bambang Cahyo Soetrisno mahasiswa Informatika angkatan 2012 Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) Malang. 

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Bambang Cahyo Soetrisno, mahasiswa Informatika angkatan 2012 Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) membuat aplikasi edukasi Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo). Aplikasi ini memanfaatkan perangkat HP android.

Latar belakang pembuatannya didasari pada bercampurnya mahasiswa inklusi atau berkebutuhan khusus dengan mahasiswa reguler di PTN, termasuk di UB. Agar bisa berkomunikasi, maka perlu satu bahasa yang bisa dimengerti kedua belah pihak.

"Saya sering berinteraksi dengan teman penyandang tuna rungu," tutur Bambang, Kamis (14/6/2016). Hal ini karena ia adalah ketua kelas. Ia kemudian mempelajari Bahasa isyarat Indonesia (Bisindo) agar bisa berkomunikasi dengan rekannya.

Kemudian dibuatlah beberapa fitur dari perangkat android itu. Meliputi fitur pencarian suara, pencarian teks dan fitur daftar kosa kata dasar. Pada setiap fitur dibuat dengan tujuan untuk membantu pengguna mencari kata yang ingin dipelajari Bahasa isyaratnya.

Pada fitur pencarian suara, pengguna tinggal mengucapkan kata yang ingin dicari dengan mendekat pada microphone. Kemudian akan muncul kata yang diinginkan beserta video cara memperagakan Bahasa isyaratnya.

Sedang di fitur pencarian teks, pengguna aplikasi tinggal mengetikkan kata yang dicari dan tekan tombol cari. Berikut akan keluar kata yang diinginkan beserta video peragaan bahasa isyaratnya.

Kemudian pada fitur daftar kosa kata, pengguna aplikasi tinggal memilih kata yang diinginkan dari daftar yang ada untuk memunculkan video peragaan bahasa isyaratnya.

“Dari hasil survei dengan teman-teman difabel, saya mendapatkan daftar 400 kata yang menurut mereka sering digunakan sehari-hari," kata Bambang. Namun karena ia masih harus mengerjakan skripsinya, maka ia baru membuat 200 kata yang sudah dibuat videonya dan bisa diakses di aplikasi.

Untuk aplikasi ini, Bambang mendapat bantuan dari teman-temannya, termasuk Marquel Dwi Putranto. Marquel juga mahasiswa FILKOM UB yang merupakan penyandang tuna rungu. Ia menjadi model video bahasa isyarat di aplikasi ini.

Menurut dia, aplikasi ini masih belum bisa diunduh di google store karena masih akan dikembangkan lebih lanjut. Ia mencontohkan soal penambahan kata, perbaikan kualitas video peraga dsb. Meski begitu, aplikasi ini sudah diikutkan lomba di Hackathon Indonesia Android Kejar 2016 yang diselenggarakan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Jakarta pada 25 – 26 Mei 2016.

Ia meraih peringkat kedua. Hackathon Indonesia Android Kejar adalah sebuah kegiatan yang ditujukan khusus bagi para pengembang aplikasi di Indonesia dengan dukungan Google Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Bukalapak. Dari 2.500 partisipan hanya lima aplikasi terbaik yang terpilih sebagai juara.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved