Malang Raya
Kisah Sukses Hasil Kerajinan Kota Malang Tembus Pasar Amerika, Perancis, dan Venezuela
"Saya waktu itu langsung menggandeng Dinas Koperasi dan Dinas Perdagangan Provinsi. Di sana itu benar-benar diseleksi,"
Penulis: Sany Eka Putri | Editor: eko darmoko
SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Tentu perlu waktu yang cukup untuk membuat sebuah usaha dikenal di masyarakat. Seperti halnya yang dirasakan oleh satu dari perajin handicraft di Kota Malang, Yanne Pribowo (42).
Pemilik sekaligus perajin Rio Handicraft ini, memulai usaha sejak tahun 2002. Ia baru bisa memasarkan usahanya di bidang souvenir berbentuk kupu-kupu dua tahun setelah berjalan.
"Saya waktu itu langsung menggandeng Dinas Koperasi dan Dinas Perdagangan Provinsi. Di sana itu benar-benar diseleksi," tutur dia saat ditemui di rumahnya yang sekaligus rumah produksinya di Jalan Tepus Kaki, Kota Malang, Jumat (29/7/2016).
Ia membuat usaha ini dari limbah bulu shuttlecok. Dari bulu itu bisa ia manfaatkan untuk membuat souvenir berbentuk kupu-kupu. Ada yang untuk bros, keperluan model, serta hiasan kulkas.
Pemasaran usaha Yanne sudah sampai ke luar negeri, seperti Amerika, Perancis, Venezuela. Diakuinya, di Kota Malang pemasaran jauh lebih sedikit, sebab ia memiliki agen tetap di luar Pulau Jawa.
Saat ini, ia tak hanya memanfaatkan bulu, tetapi juga memanfaatkan kain stocking serta daun alami. Dalam sehari ia bisa memproduksi sebanyak 30 ribu biji. Untuk harganya, ia memasang antara Rp 1.500 hingga Rp 50 ribu.
"Sekarang saya kembangkan sama kerajinan anyaman. Ada yang dari enceng gondok, pelepas pisang, rotan, rumput mendong," imbuhnya.
Untuk harga anyaman sekitar Rp 35 ribu hingga Rp 500 ribu. Menurut dia, dari binaan yang selama ini ia ikuti dari Provinsi, lebih bermanfaat dan transparan dari segi pendanaan.
"Di provinsi itu kami benar-benar bersaing ketat. Meskipun saya bukan kompetitor, tetapi ada standart yang dipertanggung-jawabkan. Bagaimana harus siap ketika ada pesanan," imbuhnya.
Selain itu, ia juga mendapatkan pelatihan bagaimana standart pemasaran di luar negeri. Menurutnya, di Kota Malang sendiri, seharusnya pemkot harus bisa memilah mana UKM yang benar-benar siap dan mana UKM yang baru memulai bisnisnya.
"Semisal saja sewaktu pameran, kalau yang dikelola dari provinsi, satu stand itu tidak boleh lebih dari dua usaha yang dipamerkan. Jadi penjualannya maksimal," kata dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/yanne-pribowo-perajin-usaha-rio-handicraft-kota-malang_20160730_060854.jpg)