Malang Raya

Pemasang

Kemenangan ganda campuran bulutangkis Indonesia di Olimpiade Rio de Janeiro Brasil, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir membuat bangga rakyat Indonesia.

Penulis: Sri Wahyunik | Editor: fatkhulalami
Istimewa
Ilustrasi 

SURYAMALANG.COM, SUKUN - Kemenangan ganda campuran bulutangkis Indonesia di Olimpiade Rio de Janeiro Brasil, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir membuat bangga rakyat Indonesia.

Tak terkecuali para pemasang mata ayam dan penganyam senar di raket yang berada di Kota Malang.

Sunyoto (60) salah satunya. Sunyoto dan keluarganya menjadi pemasang mata ayam dan senar di raket sejak puluhan tahun. Berkecimpung di pekerjaan yang berhubungan dengan bulutangkis, membuat mereka menyukai olahraga itu.

"Saya bangga Indonesia menang dan meraih emas. Semalam nonton sampai selesai," ujar Sunyoto yang ditemui Surya di rumahnya di Gang Flamboyan Jl Klayatan Gang 3 Kecamatan Sukun Kota Malang, Kamis (18/8/2016).

Ketika ditemui Surya, Sunyoto, istrinya Sri Widayati (50) dan budhenya Supriyatin (88) sedang bekerja dengan raket bulutangkis. Sunyoto sedang menganyam senar di raket, begitu juga istrinya.

Sedangkan Supriyatin memasang mata ayam. Dari rumah sederhana itu, terpasang 'spare part' raket yang mungkin bisa mengantarkan seseorang menjadi atlet besar seperti Owi dan Butet (panggilan akrab Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir).

Supriyatin meskipun sudah berusia udzur masih cekatan memasang mata ayam. Ia memasang mata ayam di lubang kecil yang melingkari ujung raket. Melalu mata ayam itu nantinya senar dipasang dan dianyam sesuai kebutuhan.

Nenek dua cucu itu kini hanya melakoni sebagai pemasang mata ayam saja. Dia yang sudah 30 tahun bekerja di bidang itu sebelumnya juga menganyam senar. "Sekarang sudah tua, jadi hanya masang mata ayam saja. Saya nyantai kok, tidak ngoyo. Karena masang senar itu butuh kekuatan. Sejak usia 70-an, saya sudah tidak nganyam senar," kata Mbah Tin, panggilan akrabnya.

Dia mendapatkan bayaran Rp 3.500 per 60 unit raket (1 bendel). Setiap hari dia bisa memasang mata ayam di dua bendel raket alias 120 unit. Setiap hari, ada pengepul dan pembuat raket yang mengantarkan raket kosongan ke rumah yang dia tempati bersama Sunyoto, istri dan anaknya. Dalam sepekan, dia mendapatkan uang sekitar Rp 35.000 dari pemasangan mata ayam itu.

Mbah Tin mengaku tidak ngoyo dengan pendapatannya. Ia melakoninya karena hasilnya bisa dipakai untuk hidup di hari tuanya. Pekerjaan itu juga membuatnya tidak pikun. Namun kalau sakit, dia memilih libur.

Sedangkan untuk pemasangan senar dihargai Rp 10.000 - Rp 11.000 per bendel (60 raket). Satu bendel bisa dikerjakan sehari, maksimal dua hari. Sri, istri Sunyoto, mengaku setiap minggu pendapatan dari menganyam senar di raket itu antara Rp 60.000 - Rp 100.000, tergantung berapa banyak orderan yang bisa diselesaikan.

"Tidak tentu pendapatannya. Kalau orderan banyak, kami mendapat kiriman banyak raket. Kayak bulan Agustus begini bisa enam bendel per hari, karena bulan Agustus biasanya ramai pertandingan olahraga bulutangkis. Kalau sepi ya kadang dua - tiga bendel per hari," ujar Sri.

Meskipun pendapatan mereka dari raket tidak banyak, mereka tetap melakoninya secara kontinyu. Pekerjaan itu membuat mereka memiliki penghasilan tetap meskipun diakui keluarga itu tidak banyak. Karenanya untuk menambah penghasilan, Sunyoto dan Sri juga bekerja di tempat lain. Sri sebagai asisten rumah tangga, dan Sunyoto bekerja serabutan.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved